Pagi lagi. Aku bisa melihat
matahari yang bersinar cerah di setiap pagi. Setiap awal hari yang selalu
kutunggu untuk membuat setiap lembaran hari menjadi lebih indah dari hari-hari
indah sebelumnya. aku akan selalu mempersiapkan segalanya untuk terlihat
istimewa, untuk semua orang, semua yang ada di sekitarku. Terutama, dia. aku
akan selalu mempersiapkan senyuman terbaik untuknya. Untuk mengawali pagi hari
yang cerah, secerah suasana pagi yang selalu kunanti untuk terus bersamanya.
“Selamat pagi, Ga!” sapaku
sambil melambaikan tangan ke arahnya. Tentu saja, senyuman yang lebar mewarnai
indahnya pagi ini. setulus perasaan saat kulihat sesosok dirinya yang berdiri
tepat di depan pagar rumahnya. Lebih tepatnya, rumah kita memang berhadapan.
“Selamat pagi juga, Mel”
balasnya dengan senyuman manisnya yang selalu kunanti setiap pagi. Aku tidak
pernah bosan dengan sikapnya, malah aku selalu merindu tingkah-tingkahnya meski
kita hampir setiap saat bertemu.
Sedetik kemudian kita melangkah
keluar dari halaman rumah dan bertemu di tengah jalan. Kami saling melempar
senyum. Dan, aku selalu salah tingkah di saat seperti ini.
Kamipun berjalan menyusuri
jalanan kompleks yang sepi pagi itu. cuaca hari ini memang cerah namun angin
berhembus cukup kencang dan menyejukkan. Tak henti-hentinya aku memasang
senyuman sampai kita tiba di halte untuk menunggu bus sekolah menjemput kita.
Di saat seperti inilah aku
selalu memperhatikan sepatu milik kita masing-masing. Dia selalu mengenakan
sepatu converse cokelatnya yang tak pernah dicuci. Sedangkan aku, hampir setiap
saat aku menyikat noda di sepatu kets abu-abuku.
“Emely, nanti sore aku ada
pertandingan basket antar sekolah. acaranya bakal diadakan di lapangan sekolah.
kamu mau nonton enggak?” tanya Arga dengan menolehkan kepalanya melihat sikapku
yang ketahuan diam-diam memperhatikan kakinya yang menggantung di kursi halte
yang cukup tinggi.
Dengan gelagapan akupun
mengangguk sambil tetap menjaga senyuman. “Ya…ya… boleh deh”
Dia tersenyum ramah. Ah, Arga…
dia memang selalu terlihat cool di setiap saat. Pagi inipun aku selalu bahagia
dapat mencium aroma tubuhnya yang segar selepas mandi.
“Tapi, Ga” aku membenarkan
sesuatu. Baru saja aku teringat sesuatu. “Kayanya aku enggak bisa deh” ucapku
sambil melirik ke arahnya.
Arga menatap ke arahku.
“Kenapa?”
Aku menundukkan kepalaku, sambil
melihat kedua telapak kakiku yang berayun-ayun. “Maaf, Ga, aku harus
menyelesaikan PR. Besok harus sudah dikumpul”
“Oh iya?” dia menekan kedua
alisnya. “PR apa?”
“Kamu enggak ingat?” aku
menggelengkan kepala pelan, membuat poni rambutku tersibak pelan mengikuti
gerak kepalaku.
“PR bahasa?” tanyanya.
Aku mengangguk ragu namun
terkesan iya. “Sama fisika, Ga. Ada banyak”
“Oh ya? Astaga!” Arga menepuk
jidatnya pelan. kemudian aku tertawa sambil menepuk bahunya. Dia tertawa
mengikuti lengkingan tawaku yang membahana di lorong jalan kompleks yang masih
sunyi pagi itu.
Selepas jam pelajaran sekolah
berakhir pada pukul dua siang. Aku segera mengemas semua bukuku ke dalam
ransel. Aku beranjak dari bangku, menghampiri Arga yang duduk di bangku
belakang sembari memasang senyum. Ya, hampir setiap waktu setiap kali aku
melihatnya aku selalu tersenyum untuknya. Entahlah, apa aku berlebihan atau
memang Arga tercipta untukku menjadi smiley
machine?
“Arga sorry ya aku enggak bisa
support kamu sore ini, soalnya aku mau kerjain PR” ucapku saat itu. aku
melihatnya sedang berbincang-bincang dengan sekawanan cowok di bangku belakang.
tapi saat Arga melihat kehadiranku ia sudah menyambutku dengan tatapan
sendunya.
“Iya enggak masalah, Mel. Kamu
pulang aja duluan” katanya dengan lembut.
Aku memang senyum.
“Enggak apakan pulang sendiri?”
tanyanya.
Aku mengangguk pelan, “Bukan
kali pertama kok, Ga” tuturku.
“Kalau gitu nanti malam aku ke
rumah kamu ya, aku mau belajar Fisika sama kamu”
“Okey, aku menunggumu” balasku.
Kami saling memandang dan
tersenyum. Aku hendak melangkah mundur untuk meninggalkan Arga namun ia
berhasil menghentikan langkahku saat ia berdiri dari duduknya. Semua teman-temannya
juga langsung terpengarah menatap Arga. Aku sendiripun terperanjat saat Arga
tiba-tiba berdiri.
Entah setan apa yang merasuki
Arga, tiba-tiba saja ia mendekatkan jari telunjuknya ke depan wajahku. lalu
dengan pelan ia menyentuh batang kacamata yang menggantung di hidungku, ia
mendorong kacamatku mundur untuk menyesuaikan posisi kacamataku yang melorot.
Uh, aku fikir apa. Jantungku
sudah berdegup cepat saat itu. keringat sudah mengucur deras dengan hebatnya
hanya karena Arga cuman memperbaiki posisi kacamataku.
“Hati-hati ya Emely” bisiknya
dengan manis.
Aku tidak bisa berucap apa-apa
saat itu. wajahku rasanya kaku dan lututku bergetar hebat.
Kemudian Arga kembali duduk di
bangkunya dan tetap tersenyum ke arahku.
“A…a…aku… pe...pergi dulu.
byee!” aku langsung berlari meninggalkan kelas dengan wajah merah merona dan
penuh membara.
Aku bersandar di dinding ruangan
kamarku. menatap keluar jendela dan menemukan kamar jendela yang sama di
sebrang sana, yup kamar Arga. Aku sering mengintipnya sedang belajar dengan
konsen tanpa sepengetahuannya. Juga, aktivitas lainnya. Tanpa sengaja aku
pernah melihat tubuh Arga tanpa kaos dan memperlihat dadanya yang bidang. Uh,
aku luluh saat itu.
Andai Arga sudah tahu perasaan
yang sudah lama kupendam untuknya, mungkin kita bakal merasakan hubungan yang
lain di antara kita. Aneh jika Arga tidak merasakan hal yang sama denganku
karena memang sudah lama kita kenal dan dekat. Hampir setiap hari kita
bersama-sama. Dan cuman Argalah satu-satunya pria yang membuatku jatuh cinta.
Karena dialah cinta pertamaku.
Aku selalu menanti hari esok
untuk melihat senyum cerianya di depan pintu. Menatap senyumannya di setiap
waktu, pagi hingga malam. Menghabiskan banyak waktu untuk selalu berdua. Tapi
sayangnya kita enggak punya komitmen apa-apa. Aku selalu berusaha untuk
melakukan yang terbaik di depannya. Menjadi wanita yang Arga suka. Tapi hingga
sekarangpun Arga belum pernah mengatakan sesuatu apapun padaku. Dia sendiri
juga tidak memiliki pacar. Sudah berkali-kali aku menanyainya; mengapa dia tak
memiliki pacar?
Arga dengan sikapnya yang cool
menjawab dengan tatapan yang hangat. “Aku tidak akan memiliki pacar sampai kamu
akan lebih bahagia lebih dulu dariku”
Aku enggak ngerti. Saat itu aku
cuman mengangguk dan tersipu malu. Kufikir memang Arga menyimpan rasa yang sama
denganku. Dan itu bukan hanya satu, dia juga suka menemaniku, membantuku untuk
mengajariku berolahraga, menyelesaikan gambar sketsaku yang buruk, mengajariku
bermain music, dan mendengarkan semua keluh kesah cerita yang kupunya. Apa dia
tidak pernah mengerti dengan perasaanku? Apa Arga tak memiliki perasaan yang
sama denganku?
Atau, aku harus menunggu lebih lama?
Malam itu aku menemui Arga pulang
dengan kaos basket sekolah. tubuhnya sangat lemah saat mendorong pagar
rumahnya. Ia menenteng tas sekolahnya dengan lesu. Aku berdeham pelan. tapi ia
tak menyadari kehadiranku. Akupun bergegas menghampirnya, menyambar tas
sekolahnya yang terseret di tangannya. Arga baru menyadari kehadiranku kemudian
melemparkan senyuman yang terpaksa. Aku tahu, sebenarnya ia tulus tersenyum
tapi ia masih terlihat kelelahan.
“Bagaimana team basket kamu?
kalah? Menang?” tanyaku.
“Menang” jawabnya dengan
memamerkan susunan giginya yang rata.
“Waaah… sudah kuduga” aku
memeluk tas sekolahnya sambil tersenyum gembira.
“Kamu sudah makan?” tanyanya.
“Uhm… sudah, kenapa? Kamu mau
makan?” aku balas bertanya.
“Ya, aku laper banget nih”
“Tapi, Ga… barusan orangtua kamu
pada pergi keluar. Dia bilang sih katanya ada urusan. Jadi kayanya rumah kamu
kosong dan sepi tuh. Lagian Mbak Ijah asisten rumah kamu sudah sebulan cuti
kan, truuus… yakin nih di dalam rumah kamu ada makanan?”
Arga mengkerutkan dahinya. Ia
nampak bingung. namun sedetik kemudian ia menghembuskan nafas dengan kesal.
“Gih makan di rumah aku aja”
kataku dengan semangat.
“Beneran?” tanyanya dengan
antusias.
Aku mengangguk-angguk.
“Yaudah gih kamu mandi dulu
sana, bau banget tahu!” kataku sambil menutup hidung.
“Huh dasar! Iya deh aku mandi
dulu, nanti aku ke rumah kamu ya… siapin makanan yang mantap, Mel!”
“Iya iya. Aku tunggu ya!”
“Siip!”
Arga langsung mengacak-acak
pucuk kepalaku dengan telapak tangan kanannya, membuat kunciran rambutku agak
berantakan. Aku merenggut kesal dan menggembungkan kedua pipiku. Arga tertawa
renyah kemudian merebut tasnya dari pelukanku.
“Aku mandi dulu ya Emely!”
tukasnya sambil mendorong kacamataku naik, membenarkan posisinya yang tadinya
melorot ke batang hidung.
Argapun berlari memasuki rumanya,
dan aku masih bertahan di depan pagar rumahnya sambil melihat bayangannya yang
pergi memasuki rumah.
Ah, dia selalu saja membuat
hal-hal manis untukku.
Malam itu aku dan Arga sedang
duduk di ruang tamu. Kita mengerjakan PR bersama. Dia banyak menanyakan hal-hal
yang ia tak mengerti dan hampir seluruhnya ia tak mengerti. jadi aku banyak
mengajarinya. Disinilah, aku bisa diuntungkan bagi Arga kalau aku memang handal
di bidang akademik.
Aku senang saat Arga dapat
meresponku berbicara. Aku suka saat ia mendengarkan dengan baik, mengerti
dengan cepat dan mudah memahami maksudku. Akupun diam-diam mencuri pandangan
saat melihat Arga dengan konsennya menulis jawaban dengan rumus-rumus di atas
lembaran buku tulisnya. Ekspresinya, alisnya yang tertekuk, bibirnya yang
merah, jemarinya yang lembut, dan tatapannya yang selalu teduh bila dipandang.
“Mel, jangan melamun dong, nomor
enam nih bagaimana?”
Aku terbuyar saat Arga
menggoncangkan bahuku. Dan dia membuatku merah rona pipiku menjadi pucat pasi.
“Ngelamunin apa sih?” tanyanya.
“Ah… siapa yang melamun?”
tanyaku gelagapan menutupi perasaan maluku.
“Hayooo ngaku deh, tadi ngelamun
kan?”
“Enggak! Arga apaan sih!” aku
menutup wajahku dengan buku cetak fisika.
“Yaudah bantu aku nomor enam
deh, enggak ngertinih”
Aku masih menutupi wajahku
dengan buku dan tersenyum geli sendiri. tapi karena kelamaan, tiba-tiba saja
Arga merangkul bahuku, melingkarkan lengannya di leherku dan memberi paksaan
kepadaku, “Beritahu aku nomor enam atau kamu aku cekik nih???”
“Ampuun deh iya!!!” teriakku
sambil mencoba melepas lengannya yang terangkul manis di leherku. Dan aku
merasakan aroma tubuhnya dengan begitu dekat. Momen yang jarang terjadi bisa
sedekat ini. ini… seakan aku jatuh dalam pelukannya.
Perasaan ini akan selalu tumbuh
setiap waktu. Tak pernah ada rasa ragu untuk selalu mencintainya. Aku tidak
akan pernah letih untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan
perasaanku kepadanya. Tapi kalau ia memiliki perasaan yang sama dan akan
menyatakannya padaku, tentu aku akan siap mendengarnya. Aku selalu percaya pada
Arga, dan akan kusimpan rapi perasaanku di dalam ruang hatiku yang tersusun
rapi dengan indahnya untuk sosok Arga yang akan siap mengisinya.
Tapi, jujur memang sakit. Aku
hampir tidak percaya. Aku sendiri syok berat saat melihat sosok orang lain yang tiba-tiba
hadir di dalam ruangan kita. Sosok yang tak pernah kupercaya hadir.
Tepat sore itu aku melihat dia
membonceng seorang wanita dengan tubuh yang ideal dan wajah yang cantik. Aku
tidak mengerti, mengapa Arga tak pernah cerita?
Aku mengintip kejadian itu dari
balik jendela kamar. Kuperhatikan tingkah mereka berdua di teras rumah Arga.
Aku memanas, aku kira mereka hanya sebatas teman, tapi kejadian ini tak hanya
sekali terulang. Namun… berulang-ulang.
Semenjak kejadian sore itu aku
dan Arga agak menjauh. Hampir setiap pagi saat aku menunggu di depan pintu
untuk menyambutnya pergi ke halte menunggu bus sekolah ia sudah lebih dahulu
pergi dengan sepeda motornya. Jarang sekali, hampir tak pernah kuduga Arga akan
menjauhiku.
Maka mulai saat itu aku tak
pernah melihat senyuman manisnya di pagi hari.
Di kelaspun Arga mulai sibuk
dengan team basket kelas. Ia jarang menghabiskan waktu berdua lagi denganku.
Setiap kali aku menghampirinya ia hanya tersenyum singkat dan langsung berkata;
“Maaf, aku sedang sibuk basket, Emely”
Lalu aku mengangguk sambil
tersenyum ramah. Meski cokelat batang di balik punggungku mulai hancur saat aku
meremasnya dengan kesal. Dan aku, melangkah dengan perasaan kecewa saat melihat
Arga yang mulai berbeda.
Malam itu aku terkejut saat
sedang bermain gitar di ruang tamu dan melihat sosok Arga tiba-tiba hadir di
ambang pintu.
“Emely” sapa Arga dengan
senyuman manisnya. Ah, rasanya sudah sewindu aku tak pernah melihat senyuman
manis itu. berlebihan memang, tapi aku rindu dengan senyumannya itu,
Aku menjauhkan gitar dari
pangkuanku. Aku memasang senyuman yang menutupi kesedihanku dari pandangannya.
Ia langsung menghampiriku di sofa ruang tamu.
“Sibuk ngapain sih? Enggak
belajar ya? Besok ulangan kimia lho” candanya dengan tatapan geli melihatiku.
Aku ingin tertawa, tertawa
bahagia karena rindu dengan sikapnya itu. namun air mata rasanya ingin menetes.
“Oh iya, tadi aku sudah belajar
sih sedikit tapi…. Enggak ada yang masuk ke otak, baru lima menit belajar
rumusnya sudah lenyap hilang dari otak”
Aku tertawa pelan. Arga juga
tertawa.
“Gimana nih, mau ajarin aku
belajar enggak?”
“Iyadeh” aku mengangguk.
Kamipun belajar. Aku
mengajarinya berbagai rumus dengan soal-soal di buku. Ia mulai memahami dan
mengerti. aku senang saat Arga bersikap seperti biasanya. Lama sekali aku tidak
melihat sosoknya semenjak sore itu kutemui ia jalan dengan wanita cantik, juga
kesibukannya dengan team bakset.
Tapi dipertengahan belajar
tiba-tiba saja handphone Arga bordering. Kami menghentikan pelajaran, ia
buru-buru mengeluarkan handphone dari sakunya dan melihat nama yang tertera di
layar handphone.
“Bentar ya, Mel” ucapnya sebelum
mengangkat telefon itu. Aku manggut-manggut sambil tersenyum.
Arga keluar dari ruang tamu, ia
berdiri di teras rumah untuk merima telefon. Dari dalam sini aku bisa mendengar
perbcincangannya. Dan aku mendengar beberapa kalimat yang mengejutkanku.
Membuatku terperanjat dan menyembunyikan kesedihanku saat Arga mengakhiri
telefonnya.
“Emely belajarnya sampai di sini
aja ya, aku mau pergi. Aku harus jalan malam ini. enggak enak batalin janji
sama orang”
“Janji? Apa? Siapa?”
“Sebenarnya kemarin aku sudah
ada janji mau nonton di bioskop sama Citra”
“Citra?”
“Iya, itulho cewek yang lagi
dekat sama aku, sudah lama kok. Aku belum ada cerita ke kamu ya?”
Aku cuman menggeleng pelan tanpa
hasrat.
“Kalau gitu aku pergi dulu ya…
bye Emely!”
Dan, air mata yang terbendung
sejak tadi menetes dengan hangatnya dari pelupuk mataku.
Aku tak pernah mengerti. mengapa
aku menjadi takut untuk melihat hari esok? Mengapa aku menjadi benci untuk
merasakan mentari hangat yang cerah esok pagi?
Aku tak mengerti. Mengapa air
mataku tak pernah berhenti saat ini? mengapa tak ada satupun lagu yang dapat
menenangkan perasaanku? Apa aku pantas menangisi semua kejadian yang terlalu
manis?
Aku mengerti. saat tepat pukul
sepuluh malam aku menemukan dia tiba di rumahnya dengan perasaan yang senang
gembira. Aku mengintip dari balik jendelaku melihat ke sebrang sana, melihat
jendela kamarnya yang terang. Kutemukan ia loncat-loncat riang gembira.
Entahlah, pasti ia barusaja mengalami momen indah dengan sosok kehadiran orang
lain dalam hidupnya.
Aku berdiri tepat di depan
pintu. Melihat lurus ke pintu di sebrang sana. aku tak akan pernah lagi melihat
senyuman yang sama setiap pagi. Melihat sosoknya yang menyapaku, berjalan
bersama denganku, melihat sepatunya yang kotor, ataupun keluhannya pada
setumpukan rumus di kepalanya.
Hingga saat itu, pada selepas
senja sore itu aku menemukan Arga berlari dari teras rumahnya menghampiriku
yang barusaja pulang sekolah sehabis eskul. Dia nampak sangat gembira. Luar
biasa bahagia. Dia bahkan memelukku dengan erat. Namun, entah mengapa aku tak
merasakan pelukan yang hangat darinya. Sungguh berbeda.
“Emely, aku jadian sama Citra!
Aku sudah punya pacar”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Kubiarkan ia berbicara sendiri pada diriku yang hampa saat itu. mati rasa.
pandanganku kabur untuk menatap kebahagiannya. Aku cuman bisa memasang senyum
hampa untuknya. Menyambut kebahagiannya yang malah membuatku bersedih.
Berbanding terbalik.
Mulai saat itu aku tak pernah
lagi melihat senyumannya ataupun sosoknya yang muncul untuk mengisi
hari-hariku. Dan setiap pagi tak ada jadwal untukku bertahan menatap pintu
disebrang sana, aku tak akan lagi menunggu senyumannya dan menunggu sosoknya.
Percuma, karena semua itu tak akan pernah ada lagi untukku.
Tak akan pernah… dan jujur aku
menyesal.
sudah sewindu
kudidekatmu
ada disetiap pagi
di sepanjang harimu
tak mungkin bila engkau tak tahu
bilaku menyimpan rasa
yang kupendam sejak lama
setiap pagi kumenunggu di depan pintu
siap tersenyum terbaikku
agar cerah harimu
cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
disetiap pagimu, siangmu, malammu
sesaat dia datang pesona bagai pangeran
dan beri kau harapan bualan cinta dimasa depan
kau lupakan aku semua usahaku
semua pagi kita semua malam kita
tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu
setiap pagi kumenunggu di depan pintu
siap tersenyum terbaikku
agar cerah harimu
cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
disetiap pagimu, siangmu, malammu
sesaat dia datang pesona bagai pangeran
dan beri kau harapan bualan cinta dimasa depan
engkau lupakan aku semua usahaku
semua pagi kita semua malam kita
tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu
tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu
jujur memang sakit di hati
bila kini nyatanya engkau memilih dia
takkan lagi kusebodoh ini
larut di dalam angan
angan tanpa tujuan
tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar