justin bieber in wango tango

justin bieber in wango tango
perfect

Sabtu, 28 Februari 2015

Sewindu short story



Pagi lagi. Aku bisa melihat matahari yang bersinar cerah di setiap pagi. Setiap awal hari yang selalu kutunggu untuk membuat setiap lembaran hari menjadi lebih indah dari hari-hari indah sebelumnya. aku akan selalu mempersiapkan segalanya untuk terlihat istimewa, untuk semua orang, semua yang ada di sekitarku. Terutama, dia. aku akan selalu mempersiapkan senyuman terbaik untuknya. Untuk mengawali pagi hari yang cerah, secerah suasana pagi yang selalu kunanti untuk terus bersamanya.
“Selamat pagi, Ga!” sapaku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Tentu saja, senyuman yang lebar mewarnai indahnya pagi ini. setulus perasaan saat kulihat sesosok dirinya yang berdiri tepat di depan pagar rumahnya. Lebih tepatnya, rumah kita memang berhadapan.
“Selamat pagi juga, Mel” balasnya dengan senyuman manisnya yang selalu kunanti setiap pagi. Aku tidak pernah bosan dengan sikapnya, malah aku selalu merindu tingkah-tingkahnya meski kita hampir setiap saat bertemu.
Sedetik kemudian kita melangkah keluar dari halaman rumah dan bertemu di tengah jalan. Kami saling melempar senyum. Dan, aku selalu salah tingkah di saat seperti ini.
Kamipun berjalan menyusuri jalanan kompleks yang sepi pagi itu. cuaca hari ini memang cerah namun angin berhembus cukup kencang dan menyejukkan. Tak henti-hentinya aku memasang senyuman sampai kita tiba di halte untuk menunggu bus sekolah menjemput kita.
Di saat seperti inilah aku selalu memperhatikan sepatu milik kita masing-masing. Dia selalu mengenakan sepatu converse cokelatnya yang tak pernah dicuci. Sedangkan aku, hampir setiap saat aku menyikat noda di sepatu kets abu-abuku.
“Emely, nanti sore aku ada pertandingan basket antar sekolah. acaranya bakal diadakan di lapangan sekolah. kamu mau nonton enggak?” tanya Arga dengan menolehkan kepalanya melihat sikapku yang ketahuan diam-diam memperhatikan kakinya yang menggantung di kursi halte yang cukup tinggi.
Dengan gelagapan akupun mengangguk sambil tetap menjaga senyuman. “Ya…ya… boleh deh”
Dia tersenyum ramah. Ah, Arga… dia memang selalu terlihat cool di setiap saat. Pagi inipun aku selalu bahagia dapat mencium aroma tubuhnya yang segar selepas mandi.
“Tapi, Ga” aku membenarkan sesuatu. Baru saja aku teringat sesuatu. “Kayanya aku enggak bisa deh” ucapku sambil melirik ke arahnya.
Arga menatap ke arahku. “Kenapa?”
Aku menundukkan kepalaku, sambil melihat kedua telapak kakiku yang berayun-ayun. “Maaf, Ga, aku harus menyelesaikan PR. Besok harus sudah dikumpul”
“Oh iya?” dia menekan kedua alisnya. “PR apa?”
“Kamu enggak ingat?” aku menggelengkan kepala pelan, membuat poni rambutku tersibak pelan mengikuti gerak kepalaku.
“PR bahasa?” tanyanya.
Aku mengangguk ragu namun terkesan iya. “Sama fisika, Ga. Ada banyak”
“Oh ya? Astaga!” Arga menepuk jidatnya pelan. kemudian aku tertawa sambil menepuk bahunya. Dia tertawa mengikuti lengkingan tawaku yang membahana di lorong jalan kompleks yang masih sunyi pagi itu.

Selepas jam pelajaran sekolah berakhir pada pukul dua siang. Aku segera mengemas semua bukuku ke dalam ransel. Aku beranjak dari bangku, menghampiri Arga yang duduk di bangku belakang sembari memasang senyum. Ya, hampir setiap waktu setiap kali aku melihatnya aku selalu tersenyum untuknya. Entahlah, apa aku berlebihan atau memang Arga tercipta untukku menjadi smiley machine?
“Arga sorry ya aku enggak bisa support kamu sore ini, soalnya aku mau kerjain PR” ucapku saat itu. aku melihatnya sedang berbincang-bincang dengan sekawanan cowok di bangku belakang. tapi saat Arga melihat kehadiranku ia sudah menyambutku dengan tatapan sendunya.
“Iya enggak masalah, Mel. Kamu pulang aja duluan” katanya dengan lembut.
Aku memang senyum.
“Enggak apakan pulang sendiri?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan, “Bukan kali pertama kok, Ga” tuturku.
“Kalau gitu nanti malam aku ke rumah kamu ya, aku mau belajar Fisika sama kamu”
“Okey, aku menunggumu” balasku.
Kami saling memandang dan tersenyum. Aku hendak melangkah mundur untuk meninggalkan Arga namun ia berhasil menghentikan langkahku saat ia berdiri dari duduknya. Semua teman-temannya juga langsung terpengarah menatap Arga. Aku sendiripun terperanjat saat Arga tiba-tiba berdiri.
Entah setan apa yang merasuki Arga, tiba-tiba saja ia mendekatkan jari telunjuknya ke depan wajahku. lalu dengan pelan ia menyentuh batang kacamata yang menggantung di hidungku, ia mendorong kacamatku mundur untuk menyesuaikan posisi kacamataku yang melorot.
Uh, aku fikir apa. Jantungku sudah berdegup cepat saat itu. keringat sudah mengucur deras dengan hebatnya hanya karena Arga cuman memperbaiki posisi kacamataku.
“Hati-hati ya Emely” bisiknya dengan manis.
Aku tidak bisa berucap apa-apa saat itu. wajahku rasanya kaku dan lututku bergetar hebat.
Kemudian Arga kembali duduk di bangkunya dan tetap tersenyum ke arahku.
“A…a…aku… pe...pergi dulu. byee!” aku langsung berlari meninggalkan kelas dengan wajah merah merona dan penuh membara.

Aku bersandar di dinding ruangan kamarku. menatap keluar jendela dan menemukan kamar jendela yang sama di sebrang sana, yup kamar Arga. Aku sering mengintipnya sedang belajar dengan konsen tanpa sepengetahuannya. Juga, aktivitas lainnya. Tanpa sengaja aku pernah melihat tubuh Arga tanpa kaos dan memperlihat dadanya yang bidang. Uh, aku luluh saat itu.
Andai Arga sudah tahu perasaan yang sudah lama kupendam untuknya, mungkin kita bakal merasakan hubungan yang lain di antara kita. Aneh jika Arga tidak merasakan hal yang sama denganku karena memang sudah lama kita kenal dan dekat. Hampir setiap hari kita bersama-sama. Dan cuman Argalah satu-satunya pria yang membuatku jatuh cinta. Karena dialah cinta pertamaku.
Aku selalu menanti hari esok untuk melihat senyum cerianya di depan pintu. Menatap senyumannya di setiap waktu, pagi hingga malam. Menghabiskan banyak waktu untuk selalu berdua. Tapi sayangnya kita enggak punya komitmen apa-apa. Aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik di depannya. Menjadi wanita yang Arga suka. Tapi hingga sekarangpun Arga belum pernah mengatakan sesuatu apapun padaku. Dia sendiri juga tidak memiliki pacar. Sudah berkali-kali aku menanyainya; mengapa dia tak memiliki pacar?
Arga dengan sikapnya yang cool menjawab dengan tatapan yang hangat. “Aku tidak akan memiliki pacar sampai kamu akan lebih bahagia lebih dulu dariku”
Aku enggak ngerti. Saat itu aku cuman mengangguk dan tersipu malu. Kufikir memang Arga menyimpan rasa yang sama denganku. Dan itu bukan hanya satu, dia juga suka menemaniku, membantuku untuk mengajariku berolahraga, menyelesaikan gambar sketsaku yang buruk, mengajariku bermain music, dan mendengarkan semua keluh kesah cerita yang kupunya. Apa dia tidak pernah mengerti dengan perasaanku? Apa Arga tak memiliki perasaan yang sama denganku?
 Atau, aku harus menunggu lebih lama?

Malam itu aku menemui Arga pulang dengan kaos basket sekolah. tubuhnya sangat lemah saat mendorong pagar rumahnya. Ia menenteng tas sekolahnya dengan lesu. Aku berdeham pelan. tapi ia tak menyadari kehadiranku. Akupun bergegas menghampirnya, menyambar tas sekolahnya yang terseret di tangannya. Arga baru menyadari kehadiranku kemudian melemparkan senyuman yang terpaksa. Aku tahu, sebenarnya ia tulus tersenyum tapi ia masih terlihat kelelahan.
“Bagaimana team basket kamu? kalah? Menang?” tanyaku.
“Menang” jawabnya dengan memamerkan susunan giginya yang rata.
“Waaah… sudah kuduga” aku memeluk tas sekolahnya sambil tersenyum gembira.
“Kamu sudah makan?” tanyanya.
“Uhm… sudah, kenapa? Kamu mau makan?” aku balas bertanya.
“Ya, aku laper banget nih”
“Tapi, Ga… barusan orangtua kamu pada pergi keluar. Dia bilang sih katanya ada urusan. Jadi kayanya rumah kamu kosong dan sepi tuh. Lagian Mbak Ijah asisten rumah kamu sudah sebulan cuti kan, truuus… yakin nih di dalam rumah kamu ada makanan?”
Arga mengkerutkan dahinya. Ia nampak bingung. namun sedetik kemudian ia menghembuskan nafas dengan kesal.
“Gih makan di rumah aku aja” kataku dengan semangat.
“Beneran?” tanyanya dengan antusias.
Aku mengangguk-angguk.
“Yaudah gih kamu mandi dulu sana, bau banget tahu!” kataku sambil menutup hidung.
“Huh dasar! Iya deh aku mandi dulu, nanti aku ke rumah kamu ya… siapin makanan yang mantap, Mel!”
“Iya iya. Aku tunggu ya!”
“Siip!”
Arga langsung mengacak-acak pucuk kepalaku dengan telapak tangan kanannya, membuat kunciran rambutku agak berantakan. Aku merenggut kesal dan menggembungkan kedua pipiku. Arga tertawa renyah kemudian merebut tasnya dari pelukanku.
“Aku mandi dulu ya Emely!” tukasnya sambil mendorong kacamataku naik, membenarkan posisinya yang tadinya melorot ke batang hidung.
Argapun berlari memasuki rumanya, dan aku masih bertahan di depan pagar rumahnya sambil melihat bayangannya yang pergi memasuki rumah.
Ah, dia selalu saja membuat hal-hal manis untukku.

Malam itu aku dan Arga sedang duduk di ruang tamu. Kita mengerjakan PR bersama. Dia banyak menanyakan hal-hal yang ia tak mengerti dan hampir seluruhnya ia tak mengerti. jadi aku banyak mengajarinya. Disinilah, aku bisa diuntungkan bagi Arga kalau aku memang handal di bidang akademik.
Aku senang saat Arga dapat meresponku berbicara. Aku suka saat ia mendengarkan dengan baik, mengerti dengan cepat dan mudah memahami maksudku. Akupun diam-diam mencuri pandangan saat melihat Arga dengan konsennya menulis jawaban dengan rumus-rumus di atas lembaran buku tulisnya. Ekspresinya, alisnya yang tertekuk, bibirnya yang merah, jemarinya yang lembut, dan tatapannya yang selalu teduh bila dipandang.
“Mel, jangan melamun dong, nomor enam nih bagaimana?”
Aku terbuyar saat Arga menggoncangkan bahuku. Dan dia membuatku merah rona pipiku menjadi pucat pasi.
“Ngelamunin apa sih?” tanyanya.
“Ah… siapa yang melamun?” tanyaku gelagapan menutupi perasaan maluku.
“Hayooo ngaku deh, tadi ngelamun kan?”
“Enggak! Arga apaan sih!” aku menutup wajahku dengan buku cetak fisika.
“Yaudah bantu aku nomor enam deh, enggak ngertinih”
Aku masih menutupi wajahku dengan buku dan tersenyum geli sendiri. tapi karena kelamaan, tiba-tiba saja Arga merangkul bahuku, melingkarkan lengannya di leherku dan memberi paksaan kepadaku, “Beritahu aku nomor enam atau kamu aku cekik nih???”
“Ampuun deh iya!!!” teriakku sambil mencoba melepas lengannya yang terangkul manis di leherku. Dan aku merasakan aroma tubuhnya dengan begitu dekat. Momen yang jarang terjadi bisa sedekat ini. ini… seakan aku jatuh dalam pelukannya.

Perasaan ini akan selalu tumbuh setiap waktu. Tak pernah ada rasa ragu untuk selalu mencintainya. Aku tidak akan pernah letih untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Tapi kalau ia memiliki perasaan yang sama dan akan menyatakannya padaku, tentu aku akan siap mendengarnya. Aku selalu percaya pada Arga, dan akan kusimpan rapi perasaanku di dalam ruang hatiku yang tersusun rapi dengan indahnya untuk sosok Arga yang akan siap mengisinya.

Tapi, jujur memang sakit. Aku hampir tidak percaya. Aku sendiri syok berat  saat melihat sosok orang lain yang tiba-tiba hadir di dalam ruangan kita. Sosok yang tak pernah kupercaya hadir.
Tepat sore itu aku melihat dia membonceng seorang wanita dengan tubuh yang ideal dan wajah yang cantik. Aku tidak mengerti, mengapa Arga tak pernah cerita?
Aku mengintip kejadian itu dari balik jendela kamar. Kuperhatikan tingkah mereka berdua di teras rumah Arga. Aku memanas, aku kira mereka hanya sebatas teman, tapi kejadian ini tak hanya sekali terulang. Namun… berulang-ulang.
Semenjak kejadian sore itu aku dan Arga agak menjauh. Hampir setiap pagi saat aku menunggu di depan pintu untuk menyambutnya pergi ke halte menunggu bus sekolah ia sudah lebih dahulu pergi dengan sepeda motornya. Jarang sekali, hampir tak pernah kuduga Arga akan menjauhiku.
Maka mulai saat itu aku tak pernah melihat senyuman manisnya di pagi hari.
Di kelaspun Arga mulai sibuk dengan team basket kelas. Ia jarang menghabiskan waktu berdua lagi denganku. Setiap kali aku menghampirinya ia hanya tersenyum singkat dan langsung berkata; “Maaf, aku sedang sibuk basket, Emely”
Lalu aku mengangguk sambil tersenyum ramah. Meski cokelat batang di balik punggungku mulai hancur saat aku meremasnya dengan kesal. Dan aku, melangkah dengan perasaan kecewa saat melihat Arga yang mulai berbeda.

Malam itu aku terkejut saat sedang bermain gitar di ruang tamu dan melihat sosok Arga tiba-tiba hadir di ambang pintu.
“Emely” sapa Arga dengan senyuman manisnya. Ah, rasanya sudah sewindu aku tak pernah melihat senyuman manis itu. berlebihan memang, tapi aku rindu dengan senyumannya itu,
Aku menjauhkan gitar dari pangkuanku. Aku memasang senyuman yang menutupi kesedihanku dari pandangannya. Ia langsung menghampiriku di sofa ruang tamu.
“Sibuk ngapain sih? Enggak belajar ya? Besok ulangan kimia lho” candanya dengan tatapan geli melihatiku.
Aku ingin tertawa, tertawa bahagia karena rindu dengan sikapnya itu. namun air mata rasanya ingin menetes.
“Oh iya, tadi aku sudah belajar sih sedikit tapi…. Enggak ada yang masuk ke otak, baru lima menit belajar rumusnya sudah lenyap hilang dari otak”
Aku tertawa pelan. Arga juga tertawa.
“Gimana nih, mau ajarin aku belajar enggak?”
“Iyadeh” aku mengangguk.
Kamipun belajar. Aku mengajarinya berbagai rumus dengan soal-soal di buku. Ia mulai memahami dan mengerti. aku senang saat Arga bersikap seperti biasanya. Lama sekali aku tidak melihat sosoknya semenjak sore itu kutemui ia jalan dengan wanita cantik, juga kesibukannya dengan team bakset.
Tapi dipertengahan belajar tiba-tiba saja handphone Arga bordering. Kami menghentikan pelajaran, ia buru-buru mengeluarkan handphone dari sakunya dan melihat nama yang tertera di layar handphone.
“Bentar ya, Mel” ucapnya sebelum mengangkat telefon itu. Aku manggut-manggut sambil tersenyum.
Arga keluar dari ruang tamu, ia berdiri di teras rumah untuk merima telefon. Dari dalam sini aku bisa mendengar perbcincangannya. Dan aku mendengar beberapa kalimat yang mengejutkanku. Membuatku terperanjat dan menyembunyikan kesedihanku saat Arga mengakhiri telefonnya.
“Emely belajarnya sampai di sini aja ya, aku mau pergi. Aku harus jalan malam ini. enggak enak batalin janji sama orang”
“Janji? Apa? Siapa?”
“Sebenarnya kemarin aku sudah ada janji mau nonton di bioskop sama Citra”
“Citra?”
“Iya, itulho cewek yang lagi dekat sama aku, sudah lama kok. Aku belum ada cerita ke kamu ya?”
Aku cuman menggeleng pelan tanpa hasrat.
“Kalau gitu aku pergi dulu ya… bye Emely!”
Dan, air mata yang terbendung sejak tadi menetes dengan hangatnya dari pelupuk mataku.

Aku tak pernah mengerti. mengapa aku menjadi takut untuk melihat hari esok? Mengapa aku menjadi benci untuk merasakan mentari hangat yang cerah esok pagi?
Aku tak mengerti. Mengapa air mataku tak pernah berhenti saat ini? mengapa tak ada satupun lagu yang dapat menenangkan perasaanku? Apa aku pantas menangisi semua kejadian yang terlalu manis?
Aku mengerti. saat tepat pukul sepuluh malam aku menemukan dia tiba di rumahnya dengan perasaan yang senang gembira. Aku mengintip dari balik jendelaku melihat ke sebrang sana, melihat jendela kamarnya yang terang. Kutemukan ia loncat-loncat riang gembira. Entahlah, pasti ia barusaja mengalami momen indah dengan sosok kehadiran orang lain dalam hidupnya.

Aku berdiri tepat di depan pintu. Melihat lurus ke pintu di sebrang sana. aku tak akan pernah lagi melihat senyuman yang sama setiap pagi. Melihat sosoknya yang menyapaku, berjalan bersama denganku, melihat sepatunya yang kotor, ataupun keluhannya pada setumpukan rumus di kepalanya.
Hingga saat itu, pada selepas senja sore itu aku menemukan Arga berlari dari teras rumahnya menghampiriku yang barusaja pulang sekolah sehabis eskul. Dia nampak sangat gembira. Luar biasa bahagia. Dia bahkan memelukku dengan erat. Namun, entah mengapa aku tak merasakan pelukan yang hangat darinya. Sungguh berbeda.
“Emely, aku jadian sama Citra! Aku sudah punya pacar”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kubiarkan ia berbicara sendiri pada diriku yang hampa saat itu. mati rasa. pandanganku kabur untuk menatap kebahagiannya. Aku cuman bisa memasang senyum hampa untuknya. Menyambut kebahagiannya yang malah membuatku bersedih.
Berbanding terbalik.

Mulai saat itu aku tak pernah lagi melihat senyumannya ataupun sosoknya yang muncul untuk mengisi hari-hariku. Dan setiap pagi tak ada jadwal untukku bertahan menatap pintu disebrang sana, aku tak akan lagi menunggu senyumannya dan menunggu sosoknya. Percuma, karena semua itu tak akan pernah ada lagi untukku.
Tak akan pernah… dan jujur aku menyesal.

sudah sewindu
kudidekatmu
ada disetiap pagi
di sepanjang harimu

tak mungkin bila engkau tak tahu
bilaku menyimpan rasa
yang kupendam sejak lama

setiap pagi kumenunggu di depan pintu
siap tersenyum terbaikku
agar cerah harimu
cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
disetiap pagimu, siangmu, malammu

sesaat dia datang pesona bagai pangeran
dan beri kau harapan bualan cinta dimasa depan
kau lupakan aku semua usahaku
semua pagi kita semua malam kita

tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu

setiap pagi kumenunggu di depan pintu
siap tersenyum terbaikku
agar cerah harimu
cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
disetiap pagimu, siangmu, malammu

sesaat dia datang pesona bagai pangeran
dan beri kau harapan bualan cinta dimasa depan
engkau lupakan aku semua usahaku
semua pagi kita semua malam kita

tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu

tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu

jujur memang sakit di hati
bila kini nyatanya engkau memilih dia
takkan lagi kusebodoh ini
larut di dalam angan
angan tanpa tujuan

tak akan lagi
kumenunggumu di depan pintu
dan, tak ada lagi
tutur manis merayumu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar