Aku ingat kejadian itu, Just. Masih terekam jelas dalam
ingatanku. Semua kejadian yang selalu membuatku terkadang takut untuk mengulas
kembali semua itu. namun dari semua kejadian itu aku selalu berfikir bahwa
kejadian-kejadian itulah yang membuatku lebih kuat, lebih percaya, dan lebih
baik dari sebelumnya. semuanya seakan membawaku kembali ke masa itu, dimana aku
masih mengenalmu sebagai Justin yang selalu bernyanyi hanya untukku. semuanya,
semuanya terasa begitu indah, Just…
***
Aku mendapatkan dirimu sedang bermain gitar di bangku
belakang halaman rumahku. Aku mengejutkanmu dan tentu saja kamu terkejut dengan
kedatanganku. Kamu tertawa renyah dengan manisnya. Dan betapa berharganya aku
bisa memilikimu, dapat melihat wajahmu yang selalu membuatku tersenyum setiap
saat.
Aku duduk di sampingmu, memberikanmu segelas minuman segar
padamu. Kamu menggeleng pelan dan membiarkanku meletakan minuman itu di meja
kecil di sampingku. lalu aku merengkuh duduk mendekatimu, sedikit membungkukkan
badanku dan menopang wajahku dengan kedua lenganku di atas lutut. aku
memperhatikanmu bernyanyi sambil memetik gitar itu. kamu menatapku dengan
hangat dan kamu mulai bernyanyi dengan indahnya.
Kamu selalu saja membuatku terhibur. Kamu enggak peduli
seberapa lelah dan letihnya kamu saat itu yang pasti jika aku membutuhkanmu
kamu akan selalu siap datang menemuiku, membuatku tersenyum dan tertawa.
Bayangkan, betapa indahnya momen manis yang sudah kita ciptakan dalam hubungan
kita.
Di saat seperti inilah, di saat kamu sedang asyik dengan
dirimu terkadang aku selalu mencuri pandangan untuk menatapmu lebih dekat.
Menerka, seberapa jauh sosok dirimu yang membuatku betah padamu selama dua
tahun ini. bukan, sebenarnya kita sudah sangat jauh mengenal sejak kita kecil
tapi kita memulai hubungan manis ini sejak dua tahun silam. Tentu saja aku
bahagia, Just. Sangat bahagia.
“Hey mengapa kau memandangiku?” tanyamu saat kamu
menyelesaikan lagu Chris Brown berjudul With You itu. aku membuyarkan
lamunanku.
“Dimana minuman untukku?” kamu menjauhkan gitar dari
pangkuanmu, hendak beranjak dan mengambil minuman yang ada di sampingku namun
aku lebih cepat darimu. Kuberikan minuman orange juice yang kubuat beberapa
menit yang lalu itu padamu.
Kemudian kami bercengkrama, membicarakan hal-hal kecil yang
kita ungkit. Tentang sekolah, teman-teman, dan diri kita masing-masing.
Diam-diam aku menemukanmu saat aku sedang berbicara, kulihat kamu
memperhatikanku berbicara dengan pandanganmu. Aku suka, aku suka dengan cara
kamu mendengarkanku berbicara. Karena aku suka cara orang meresponku dengan
baik. Tapi kalau itu yang kamu lakukan, detik selanjutnya saat ditengah aku
berbicara aku akan selalu salah tingkah. Karena tatapanmu seakan membuatku ragu
untuk melanjutkan pembicaraanku.
“Justin!” aku memukul bahumu.
“Ouh!” kamu mengeluh sakit.
“Please jangan natap aku seperti itu”
Kamu menyengir. Tertawa-tawa dan aku terus memukulimu tapi
kamu tidak marah dan kita memang selalu seperti ini.
Di saat seperti inilah kamu akan sigap menangkap tubuhku dan
memelukku. Itu adalah cara kamu menghentikanku untuk memukulimu. Aku jatuh
dalam pelukanmu dan kita tertawa-tawa bersama. Aku tidak melepas pelukanmu saat
itu. begitu juga denganmu. Seakan waktu saat itu berhenti untuk membiarkan kita
habis dalam pelukan itu. kemudian kamu menjatuhkan wajahmu di atas pucuk
kepalaku, kamu mengecup keningku dengan lembut. aku cuman bisa merengkuh
punggungmu dan membiarkan wajahku tenggelam dalam dadamu.
“Aku begitu mencintaimu Caitlin” bisikmu, tulus.
Senyumanku merekah. Aku memperat pelukanku dan aku berdesis
pelan tanpa sepengetahuanmu, “Yeah,
Justin… aku juga sangat mencintaimu”
***
Masih terekam begitu jelas kejadian ini. kejadian yang dapat
merubah kehidupanmu seratus delapan puluh derajat. Aku berangkat dari rumahku
untuk mengunjungi rumahmu siang itu. aku datang bersama adikku Christian. Kami
hanya sekedar mampir dan bermain ke rumahmu. Berhubung rumah kita enggak begitu
jauh dan keluarga kita sudah sangat akrab jadi ini sudah menjadi kebiasaan bagi
kita.
Aku mengetuk pintu rumahmu. Pattie Mallete, Mommy mu
membukakan pintu untuk kami. ia mempersilahkan kami memasuki rumahmu. Ia
menyambut kami hangat dan menyuruh kami untuk duduk di sofa cokelat sederhana
di sana. Saat itu kamu sedang ada di kamar dan Pattie bergegas memanggilmu. Tak
lama kamu datang dan menghampiri kami. pertama kali kamu memelukku singkat dan
menyapa Christian.
“Hey kau tahu, aku baru saja mendapat telefon dari
seseorang!” serumu saat kami bertiga duduk di sofa itu.
“Siapa?” aku menyambut keseruanmu, memasang wajah penasaran
dan ikut bahagia sesuai ekspresimu saat itu.
“Dari Scooter Braun. Kau tahu, Cait? Dia adalah produser
music terkenal. Katanya dia melihat videoku di Youtube dan menawarkan pekerjaan
untukku”
“Oh ya? Itu bagus. Lalu apa yang terjadi, Just?”
“Yeah, aku dan Mom setuju dengan tawarannya. Ia bilang bahwa
aku memiliki bakat yang bagus. Aku bisa menjadi penyanyi terkenal. Lalu aku dan
dia akan menjalin kontrak dengan management music nya”
Aku memamerkan senyumanku.
“Jadi, besok lusa aku dan Mom akan pergi ke New York untuk
bertemu dengannya dan melakukan job baru ini”
“Ke New York?”
Kamu mengangguk-angguk dengan semangat, “Iya, Cait”
“Tapi… kamu tidak pindahkan, Just?”
Kamu menggeleng pelan untuk meyakinkan kepanikanku. “Tidak,
Cait. Tidak” kamu tersenyum simpul.
***
Kamu bilang, kamu enggak pindah ke New York. Namun kamu
membohongiku. Setelah kamu terjalin kontrak rekaman dengan So So def jam kamu
pergi meninggalkan Canada dan menetap di sana. sebelum kamu berencana pindah,
kamu mendatangi rumahku malam itu. kamu mengabari padaku bahwa bakatmu dalam
bernyanyi di respon baik oleh orang-orang di sana. bahkan, Usher menyukai
caramu bernyanyi dan mereka bilang kamu memiliki jiwa bintang dalam dirimu.
“Aku enggak bisa jalani hubungan jarak jauh, Just” kataku,
kita sedang duduk di teras depan rumah, aku menundukkan wajahku, menutup
wajahku dengan kedua telapak tangan.
Kamu duduk di sampingku.
“Maaf Cait. Aku harus mengejar mimpiku, ini kesempatan besar
untukku”
“Enggak, kamu enggak perlu meminta maaf” aku mengangkat wajahku,
menunjukkan senyumanku yan terbalut dengan air mata yanga mengalir hangat
membasahi pipiku.
“Kamu benar, kamu harus mengejar mimpimu. Bukankah kamu
selalu bilang kalau kamu ingin bernyanyi untuk orang lain? Dan sekarang itu
akan terwujud, Just. Yaaa… aku mengerti, kamu harus mewujudkan impianmu.
Pergilah”
Kamu tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Baru saja kau bilang
bahwa kamu enggak sanggup jalani hubungan jarak jauh”
“Tak masalah. Aku akan coba. Kita harus hadapi ini. yang
penting kalau kamu sudah sukses di sana jangan pernah lupakan aku, jangan
pernah lupakan hubungan yang kita udah bangun”
“Iya, aku janji Caitlin. Aku janji”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar