justin bieber in wango tango

justin bieber in wango tango
perfect

Kamis, 07 Mei 2015

JAITLIN Story: "Justin Bieber and Caitlin Beadles in love" by Dellyana



Aku ingat kejadian itu, Just. Masih terekam jelas dalam ingatanku. Semua kejadian yang selalu membuatku terkadang takut untuk mengulas kembali semua itu. namun dari semua kejadian itu aku selalu berfikir bahwa kejadian-kejadian itulah yang membuatku lebih kuat, lebih percaya, dan lebih baik dari sebelumnya. semuanya seakan membawaku kembali ke masa itu, dimana aku masih mengenalmu sebagai Justin yang selalu bernyanyi hanya untukku. semuanya, semuanya terasa begitu indah, Just…
***

Aku mendapatkan dirimu sedang bermain gitar di bangku belakang halaman rumahku. Aku mengejutkanmu dan tentu saja kamu terkejut dengan kedatanganku. Kamu tertawa renyah dengan manisnya. Dan betapa berharganya aku bisa memilikimu, dapat melihat wajahmu yang selalu membuatku tersenyum setiap saat.
Aku duduk di sampingmu, memberikanmu segelas minuman segar padamu. Kamu menggeleng pelan dan membiarkanku meletakan minuman itu di meja kecil di sampingku. lalu aku merengkuh duduk mendekatimu, sedikit membungkukkan badanku dan menopang wajahku dengan kedua lenganku di atas lutut. aku memperhatikanmu bernyanyi sambil memetik gitar itu. kamu menatapku dengan hangat dan kamu mulai bernyanyi dengan indahnya.
Kamu selalu saja membuatku terhibur. Kamu enggak peduli seberapa lelah dan letihnya kamu saat itu yang pasti jika aku membutuhkanmu kamu akan selalu siap datang menemuiku, membuatku tersenyum dan tertawa. Bayangkan, betapa indahnya momen manis yang sudah kita ciptakan dalam hubungan kita.
Di saat seperti inilah, di saat kamu sedang asyik dengan dirimu terkadang aku selalu mencuri pandangan untuk menatapmu lebih dekat. Menerka, seberapa jauh sosok dirimu yang membuatku betah padamu selama dua tahun ini. bukan, sebenarnya kita sudah sangat jauh mengenal sejak kita kecil tapi kita memulai hubungan manis ini sejak dua tahun silam. Tentu saja aku bahagia, Just. Sangat bahagia.
“Hey mengapa kau memandangiku?” tanyamu saat kamu menyelesaikan lagu Chris Brown berjudul With You itu. aku membuyarkan lamunanku.
“Dimana minuman untukku?” kamu menjauhkan gitar dari pangkuanmu, hendak beranjak dan mengambil minuman yang ada di sampingku namun aku lebih cepat darimu. Kuberikan minuman orange juice yang kubuat beberapa menit yang lalu itu padamu.
Kemudian kami bercengkrama, membicarakan hal-hal kecil yang kita ungkit. Tentang sekolah, teman-teman, dan diri kita masing-masing. Diam-diam aku menemukanmu saat aku sedang berbicara, kulihat kamu memperhatikanku berbicara dengan pandanganmu. Aku suka, aku suka dengan cara kamu mendengarkanku berbicara. Karena aku suka cara orang meresponku dengan baik. Tapi kalau itu yang kamu lakukan, detik selanjutnya saat ditengah aku berbicara aku akan selalu salah tingkah. Karena tatapanmu seakan membuatku ragu untuk melanjutkan pembicaraanku.
“Justin!” aku memukul bahumu.
“Ouh!” kamu mengeluh sakit.
“Please jangan natap aku seperti itu”
Kamu menyengir. Tertawa-tawa dan aku terus memukulimu tapi kamu tidak marah dan kita memang selalu seperti ini.
Di saat seperti inilah kamu akan sigap menangkap tubuhku dan memelukku. Itu adalah cara kamu menghentikanku untuk memukulimu. Aku jatuh dalam pelukanmu dan kita tertawa-tawa bersama. Aku tidak melepas pelukanmu saat itu. begitu juga denganmu. Seakan waktu saat itu berhenti untuk membiarkan kita habis dalam pelukan itu. kemudian kamu menjatuhkan wajahmu di atas pucuk kepalaku, kamu mengecup keningku dengan lembut. aku cuman bisa merengkuh punggungmu dan membiarkan wajahku tenggelam dalam dadamu.
“Aku begitu mencintaimu Caitlin” bisikmu, tulus.
Senyumanku merekah. Aku memperat pelukanku dan aku berdesis pelan tanpa sepengetahuanmu, “Yeah, Justin… aku juga sangat mencintaimu

***

Masih terekam begitu jelas kejadian ini. kejadian yang dapat merubah kehidupanmu seratus delapan puluh derajat. Aku berangkat dari rumahku untuk mengunjungi rumahmu siang itu. aku datang bersama adikku Christian. Kami hanya sekedar mampir dan bermain ke rumahmu. Berhubung rumah kita enggak begitu jauh dan keluarga kita sudah sangat akrab jadi ini sudah menjadi kebiasaan bagi kita.
Aku mengetuk pintu rumahmu. Pattie Mallete, Mommy mu membukakan pintu untuk kami. ia mempersilahkan kami memasuki rumahmu. Ia menyambut kami hangat dan menyuruh kami untuk duduk di sofa cokelat sederhana di sana. Saat itu kamu sedang ada di kamar dan Pattie bergegas memanggilmu. Tak lama kamu datang dan menghampiri kami. pertama kali kamu memelukku singkat dan menyapa Christian.
“Hey kau tahu, aku baru saja mendapat telefon dari seseorang!” serumu saat kami bertiga duduk di sofa itu.
“Siapa?” aku menyambut keseruanmu, memasang wajah penasaran dan ikut bahagia sesuai ekspresimu saat itu.
“Dari Scooter Braun. Kau tahu, Cait? Dia adalah produser music terkenal. Katanya dia melihat videoku di Youtube dan menawarkan pekerjaan untukku”
“Oh ya? Itu bagus. Lalu apa yang terjadi, Just?”
“Yeah, aku dan Mom setuju dengan tawarannya. Ia bilang bahwa aku memiliki bakat yang bagus. Aku bisa menjadi penyanyi terkenal. Lalu aku dan dia akan menjalin kontrak dengan management music nya”
Aku memamerkan senyumanku.
“Jadi, besok lusa aku dan Mom akan pergi ke New York untuk bertemu dengannya dan melakukan job baru ini”
“Ke New York?”
Kamu mengangguk-angguk dengan semangat, “Iya, Cait”
“Tapi… kamu tidak pindahkan, Just?”
Kamu menggeleng pelan untuk meyakinkan kepanikanku. “Tidak, Cait. Tidak” kamu tersenyum simpul.
***

Kamu bilang, kamu enggak pindah ke New York. Namun kamu membohongiku. Setelah kamu terjalin kontrak rekaman dengan So So def jam kamu pergi meninggalkan Canada dan menetap di sana. sebelum kamu berencana pindah, kamu mendatangi rumahku malam itu. kamu mengabari padaku bahwa bakatmu dalam bernyanyi di respon baik oleh orang-orang di sana. bahkan, Usher menyukai caramu bernyanyi dan mereka bilang kamu memiliki jiwa bintang dalam dirimu.
“Aku enggak bisa jalani hubungan jarak jauh, Just” kataku, kita sedang duduk di teras depan rumah, aku menundukkan wajahku, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.
Kamu duduk di sampingku.
“Maaf Cait. Aku harus mengejar mimpiku, ini kesempatan besar untukku”
“Enggak, kamu enggak perlu meminta maaf” aku mengangkat wajahku, menunjukkan senyumanku yan terbalut dengan air mata yanga mengalir hangat membasahi pipiku.
“Kamu benar, kamu harus mengejar mimpimu. Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu ingin bernyanyi untuk orang lain? Dan sekarang itu akan terwujud, Just. Yaaa… aku mengerti, kamu harus mewujudkan impianmu. Pergilah”
Kamu tersenyum.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Baru saja kau bilang bahwa kamu enggak sanggup jalani hubungan jarak jauh”
“Tak masalah. Aku akan coba. Kita harus hadapi ini. yang penting kalau kamu sudah sukses di sana jangan pernah lupakan aku, jangan pernah lupakan hubungan yang kita udah bangun”
“Iya, aku janji Caitlin. Aku janji”
....





(BERSAMBUNG)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar