justin bieber in wango tango

justin bieber in wango tango
perfect

Kamis, 30 Oktober 2014

Magic Magazine Bieber



               
              Pagi ini aku akan menerima majalah langgananku seperti biasanya di setiap akhir pekan di Hari Minggu. Biasanya aku memang bangun lebih awal di Hari Minggu daripada kedua saudaraku dan kedua orang tuaku. Tapi kali ini aku sungguh kelelahan dan masih mengantuk. Dan itu membuatku tidak bisa hadir untuk menerima majalahku lebih awal dan menerima nya secara langsung karena itu adalah kebiasaanku untuk menerima majalahku. Majalah yang di dalam nya selalu memberikan kabar-kabar terbaru dari idolaku, Justin Drew Bieber. Maka dari itu aku tidak mau ketinggalan berita dan tidak mau kehilangan majalah langgananku sebelum kedua saudaraku akan menyembunyikan majalah itu di tempat yang tidak aku ketahui. Karena mereka tidak menyukai sikapku yang selalu mengidolakan Justin Drew Bieber.
                Aku bangun dari tidurku yang sangat melelahkan ini. Aku melirik ke arah jam dinding kamarku. Menunjukan jam 9 AM. Aku bergegas segera keluar kamar. Menuruni beberapa anak tangga dan berlari menyelusuri kedua saudaraku yang sudah bangun lebih dulu dan menyantap sarapan mereka di dapur. Mereka melihatku yang sedang terburu-buru untuk membuka pintu rumah. sebelum aku membukanya, aku mengatur nafasku. Lalu, membuka pintu dan memasang wajah gembira untuk membaca majalah pagi ku.
                “JOHNY! RUSSEL!”, aku langsung membalikkan tubuhku, melangkah dengan langkah yang besar sambil berkacak pinggang. Aku memasang wajah amarahku. Aku menghampiri kedua saudaraku yang sedang makan di meja dapur. Mereka menatap kearahku dengan wajah bingung.
“aku tidak menyembunyikannya, mungkin dia” kata adikku, Russel dengan mulutnya yang penuh makanan. Aku memandang Johny dengan tatapan yang sangar. Johny menghentikan makannya. Sejujurnya aku paling benci dengan Johny. Dia pria remaja dengan kehidupan yang liar dan selalu membawa temannya datang untuk latihan band di gudang belakang rumah. aku benci dengan kehidupan nya itu.
“aku tidak melakukannya,” jawabnya, ketus. Aku menggumam dan dia langsung beranjak dari kursi nya, meninggalkan sarapan paginya.
“kalau bukan Russel yang mengambilnya, itu pasti kau Johny!” bentakku. Dia membalikkan badannya. Mendekatkan dirinya padaku,
“asal kau tahu Steffani, aku tidak peduli lagi dengan majalah bodoh mu itu” dia menunjuki wajahku dengan ucapannya itu. Itu membuatku kesal. Johny langsung meninggalkanku.
“that’s okey, jika aku tahu bahwa kau yang benar-benar menyembunyikan majalahku, aku akan membakar satu set drum-mu di gudang”

Aku naik menuju lantai dua. Aku membuka pintu kamarku dan aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku. Setelah mandi aku langsung mengambil laptop-ku dan berbaring di kasur sambil menghidupkan laptop-ku, aku menatap sekeliling kamarku.
Tiba-tiba aku melihat ke arah tumpukan majalah langgananku itu, aku melihat ada satu majalah yang belum aku lihat sebelumnya. Aku beranjak dari kasurku dan menghampiri setumpukan majalahku itu. Aku mengambil majalah yang belum aku baca sebelumnya itu. Covernya pun bergambar Justin Bieber utuh dan di sisi pinggir majalah itu hanya ada satu kalimat yang bertuliskan: follow your dream and believe it. This is real. aku sungguh bingung. Awalnya aku mengira bahwa ini adalah majalah baru Minggu ini tapi tak ada tercantum tanggal edisi dan percetakan keberapa majalah ini.
Namun, apa mungkin aku pernah meninggalkan majalah yang belum aku baca sebelumnya? Aku mengenal semua majalah yang pernah aku baca tapi kali ini majalah ini benar-benar belum aku pernah baca. Aku membuka lembaran pertama. Di sana ada beberapa iklan seperti majalah biasanya, lalu aku membuka lembaran berikutnya, berikutnya, dan berikutnya hingga aku menemukan bagian halaman yang di sana ada berita tentang Justin. You’re dream is REAL, itu adalah judul dari bagian kolom berita Justin. Aku membaca isi beritanya, tapi saat aku membacanya entah kenapa tulisan dalam majalah itu langsung berputar-putar seperti ada pusaran air dalam majalah itu dan semua kalimat di majalah itu berputar-putar menuju satu titik di tengah kolom berita you’re dream is REAL ITU. Aku sangat bingung dan kaget. Aku menjatuhkan majalah itu ke lantai. Anehnya, semua lembaran dalam majalah itu langsung menggulung-gulung seperti ada angina kencang yang membuat setiap halaman itu bergerak. Aku panik. Aku masih memperhatikan majalah itu dan kini majalah itu menyedot semua barang-barang di sekitarku. Aku lantas berteriak namun tiba-tiba tubuhku tersedot masuk ke dalam majalah itu. Aku sekeras-kerasnya berteriak dan memanggil ibuku. Tapi ruangan kamar ini seperti teredam dan aku langsung masuk ke dalam majalah itu. Aku lenyap.

***

Aku terjatuh ke sebuah sofa lembut. Aku membuka kelopak mataku perlahan-lahan. Aku takut jika ini adalah sebuah kenyataan, aku berharap aku baru saja bermimpi. Tapi, ketika aku membuka mataku lebar-lebar, aku sedang tertidur di sebuah sofa yang sangat lembut di dalam sebuah ruangan yang begitu lebar di penuhi banyak barang-barang dimana-mana. Aku duduk. Aku memperbaiki rambutku yang tidak rapi. Aku memandang sekelilingku, ada banyak cukup orang di sana. Semuanya tampak sangat sibuk. Ada yang sedang berdandan dan push-up. Aku ada dimana?
“kau ada di sini ternyata, ayo lekas naik ke atas panggung!” tiba-tiba seorang wanita dengan tubuh yang langsing dan berambut panjang berwarna putih dengan pakaian seperti seorang anggota dance menghampiriku. Dia menarikku dan membawaku bersama salah satu teman wanita lainnya. Kini kedua wanita itu memegang tanganku masing-masing. Mereka menuntunku berjalan ke sebuah pintu terbuka luas. Saat mereka membawaku memasuki pintu itu, cahaya silau menghalau penglihatanku.

I can fix up your broken heart
I can give you a brand new start
I can make you believe,
I just wanna set one girl free to fall (free to fall)
She's free to fall (fall in love)
With me
My hearts locked and nowhere to get the key
I'l take her and leave this world
With one less lonely girl….

Aku mendengar suara teriakan dan suara kehebohan di sekeliling di hadapanku. aku berdiri d sebuah atas panggung yang sangat luas. Kedua wanita itu melepaskan pegangan tangannya dan aku berdiri sendiri. Namun ketika aku mendengar sebuah alunan lagu yang aku sangat kenal itu, aku menoleh ke sekitarku. Betapa terkejutnya aku saat seorang pria datang menghampiriku dan memegang tanganku dan membawaku duduk di sebuah kursi di atas panggung. Pria itu lalu memberikan aku sebuah bunga dan memakaikanku sebuah lingkaran bunga seperti mahkota di atas kepalaku. Lalu, pria itu berjalan di hadapanku bersama para pria lainnya.

There's gonna be one less lonely girl
One less lonely girl
There's gonna be one less lonely girl
One less lonely girl

One less lonely girl
One less lonely girl
One less lonely girl
There's gonna be one less lonely girl
I'm gonna put you first
I'll show you what your worth
If you let me inside your world

Justin Bieber? Ya Tuhan, aku sedang duduk di sebuah kursi memeluk seikat penuh bunga dan memakai sebuah mahkota bunga yang menghiasi kepalaku. Aku menatap sekelilingku. Begitu ramai memadati sekeliling panggung besar ini. Aku melihat pria yang memberikanku bunga ini sedang melanjutkan nyanyinya di hadapanku. Justin Bieber. Justin mendekatiku dan ia menyentuh wajahku dengan lembut. Aku memandang wajahnya sangat dekat. Aku benar-benar merasa seperti seorang wanita yang beruntung menjadi One Less Lonely Girl di sebuah konser Justin Bieber. Kemudian, Justin membelai rambutku dengan lembut dan ia langsung memelukku begitu erat. Aku langsung membalas pelukannya. Setelah lagu itu selesai Justin menggandeng tanganku dan kami berjalan berdua menuju pintu dimana tadi aku menuju panggung ini. Dia membawaku ke belakang panggung.
Di belakang panggung, Justin kembali memelukku. Aku sungguh tidak menyangka bahwa aku sekarang sedang bersama idolaku. Tapi entah mengapa aku tidak histeris dan berteriak sangat kaget. Malah aku merasakan semua ini dengan polosnya.
“hai shawty, siapa namamu?” Tanya Justin kepadaku.
“Steffani Mulqueen” jawabku. Tiba-tiba mataku begitu hangat. aku meneteskan air mata dari kelopak mataku. Justin langsung kembali memelukku dan beberapa orang di sekelilingku langsung mengambil gambar kami. banyak cahaya blitz yang membuatku pusing.
“see you later shawty!” ucap Justin, dia kemudian berlalu dariku dan kembali menuju panggung. Aku masih menatap kepergian Justin. Tuhan, benarkah aku baru saja menjadi seorang One Less Lonely Girl di atas panggung bersama Justin?
“gadis, kau bisa kembali ke tempatmu” kata seorang pria. Aku mengenal pria ini. Dia adalah Ryan Good. Dia menghampiriku dan menuntunku keluar dari balik panggung. Namun hendak aku berjalan keluar dari belakang panggung ini, aku menghentikan langkahku dan bertanya padanya.
“tapi aku tidak berasal dari sini” ucapku, aku memasang wajah sedih karena aku benar-benar bingung.
Ryan menaikan salah satu alisnya dan memandangku dengan bingung, “lalu, kau berasal darimana?”
“saya dari Kanada dan saya tadi tidak ada di sini” jawabku.
“oh ya? Lalu bagaimana kamu bisa di sini jika kamu tidak tahu?”
“aku tadi berada di dalam kamarku dan-dan-dan….”
Tiba-tiba aku terjatuh terkulai lemas di lantai. Kepalaku sangat berat dan aku tidak bisa bangun. Ryan mengguncangkan bahuku agar aku sadar namun aku tidak dapat bangun dan sadar. Ryan membopongku kembali masuk ke dalam ruangan di balik panggung itu. Aku dibaringkan di atas sofa lembut yang tadi aku kenali. Di sana beberapa wanita menghampiriku dan memeriksa kondisi tubuhku. Tapi, sayangnya aku tidak bisa sadar.

***

“kami tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Ini menjadi tanggung jawab kita”,
“tapi bagaimana dengan konser Justin selanjutnya?”
“dia bisa pergi tanpaku”
“baiklah”

Aku berbaring di atas sebuah kasur yang keras dan dibaluti selimut yang tipis. Aku memandang ke sekitarku semuanya berwarna putih dan berbau obat-obatan. Apakah aku sedang berada di surga? Aku duduk di atas kasur ini lalu seseorang membuka pintu yang ada di hadapanku. ia mendekatiku.
“kau Steffani Mulqueen, kau akan ditemani Scrappy selama orang tua mu akan datang menjemputmu” kata wanita itu. Aku hanya mengangguk. Lalu orang yang disebut Scrappy itu masuk ke dalam ruangan ini.
“bagaimana bisa kalian menghubungi orang tua saya?” tanyaku.
“kami membaca di kartu identitasmu” jawab wanita itu, lalu ia keluar dari ruangan ini. Scrappy menghampiriku dan ia duduk di sebelahku berbaring. Dia menyantap sepotong rotinya. Aku hanya memandangnya bingung.
“dimana, kah, ini?” tanyaku kepada Scrappy.
“ini di rumah sakit London”
“London? Inggris?”
“tentu”
Aku langsung terduduk di atas kasurku dan menatap wajah pria dewasa itu dengan sangat terkejut. “kau bercanda aku berada di London? Aku dari Kanada dan aku tadi berada di kamarku”
Scrappy terkejut. Aku mngguncangkan bahunya. Dia panik dan bergegas langsung lari meninggalkanku dan ia berteriak memanggil dokter. Aku sungguh bingung. Aku masih terdiam di atas kasur. Aku memandang ke langit-langit ruangan ini. Di sana ada sebuah tulisan di langit-langit kamar. Aku membaca tulisan coretan tangan itu. Tiba-tiba ada sebuah majalah terjatuh dari atasnya dan menimpa wajahku. Aku mengambil majalah itu. Ketika aku melihat cover nya ternyata sama seperti majalah yang aku temui di kamarku. Belum sempat aku membuka lembarannya tiba-tiba seperti ada angina kencang menghamburkan majalah itu. Lalu seperti penghisap debu, majalah itu menyedotku masuk ke dalam majalah tersebut. Aku menghilang dari ruangan itu.

***

Tanganku sangat kram. Aku berbaring di atas lantai kamarku. Tanganku yang kram memegang majalah aneh itu. Aku segera duduk dan memandang majalah aneh yang sudah membuatku pergi jauh dari rumah. aku langsung melempar majalah itu ke bawah kolong kasurku. Aku berdiri. Tapi tiba-tiba tanganku yang sangat kram itu menjadi sangat parah dan kaku. Aku langsung keluar kamar untuk meminta bantun Johny mengatasi tanganku ini.
Ketika aku menuruni tangga aku menemui ibu bersama ayahku memasuki rumah dengan sangat khawatir. Mereka habis tergesa-gesa dan ketika mereka menatap kearahku, mereka sangat terkejut melihatku di hadapannya.
“Steffani, kau mengerjai ibu mu?” Tanya ayah kepadaku. aku membelalakan kedua bola mataku karena aku tidak mengerti maksud pembicaraan mereka.
“kau menghubungi seseorang dan menyuruh ibu untuk pergi ke rumah sakit London? Kau benar-benar membuat ibu khawatir dan sangat bingung” lanjut ayah.
Ya ampun, apa benar crue Justin Bieber itu benar-benar menghubungi ayah dan ibuku. Jadi, sejak tadi saat aku berada di atas panggung menjadi One Less Lonely Girl dan dipeluk oleh Justin Bieber itu sungguh nyata? bukan mimpi?
“ibu, ayah, tanganku terluka” aku menghentikan pembicaraan ayah dan ibu yang meneruskan perdebatan mereka karena ayah menyebutku sudah gila terhadap idolaku. Tapi ibu membelaku. Ia menghampiriku dan membawaku ke ruang tengah untuk mengobati tanganku. Ayah masih terus mendumel mengata-ngataiku bahwa aku sudah terlewat batas untuk mengidolakan seseorang.

Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku masih memikirkan majalah aneh itu. Bagaimana bisa majalah itu membawaku jauh ke London dan mempertemukan aku dengan Justin Bieber. Dan itu adalah kenyataan. Aku mengambil laptop-ku. Seharian ini aku belum ada membuka Facebook ku. Saat aku membuka facebook-ku, aku melihat di beranda ada banyak dari teman di facebookku yang mengupload sebuah gambar yang menggambarkan aku sedang duduk dan dipeluk oleh Justin Bieber. Keterangan foto tersebut adalah ini adalah gadis yang menjadi one less lonely girl saat konser Justin di London. Aku tidak habis fikir membayangkan semua yang terjadi padaku dalam dunia di majalah itu ketika aku berada di konser Justin. Justin memelukku dan aku menjadi one less lonely girl.

Pagi ini aku bergegas ke sekolah. aku mengucir rambutku dengan rapi. Ketika aku hendak mengambil tasku tiba-tiba majalah aneh itu muncul di atas meja di samping aku meletakan tasku. Padahal kemarin baru saja aku membuang majalah itu ke bawah kasurku. aku membuka lembaran itu dengan hati-hati.
Saat aku membuka halaman kolom memberitakan Justin Bieber, di sana beritanya adalah Justin Bieber dekat dengan wanita yang menjadi OLLG di London. Aku membaca beritanya. Namun, belum selesai majalah itu kembali memunculkan angina ribut dan aku kembali tersedot dalam majalah itu.

***

Justin Bieber sedang duduk di balcon kamarnya sambil memainkan gitarnya. Dia menikmati pagi nya dengan wajah yang sedih. Dia memainkan lau nya dengan sangat pelan. Tiba-tiba seseorang terjatuh di hadapannya membuat Justin Bieber sangat kaget dan menjatuhkan gitarnya. Orang yang terjatuh di hadapannya itu langsung gelagapan memperbaiki pakaiannya dan rambutnya yang acak-acakkan. Itu adalah aku.
“kau datang darimana?” Tanya Justin dengan wajah panic nya.
“maaf Justin maaf, aku juga tidak tahu aku bisa ada di sini” aku langsung berjalan meninggalkannya dan masuk ke dalam kamarny berusaha kabur dari Justin.
“hey tunggu sebentar, bukannya kamu Steffani yang menjadi OLLG di konserku kemarin?”
“i-i-iya” jawabku.
“kau sudah sembuh? Kudengar kemarin kau d rawat di rumah sakit lalu Scrappy mengawasimu dan saat ia kembali dia tak menemukanmu di sana. Kau kabur?” Tanya Justin, mendekatiku.
Aku snagat bingung harus menjawab apa kepada Justin.
“kau membuatku sangat khawatir karena aku tidak mau ada belieber yang terluka” lanjut Justin.
“justin aku sangat mengidolakanmu” kataku. Aku langsung tersadar benar-benar saat aku sungguh berada di hadapan Justin. Aku memeluknya sangat erat. Dia membalas pelukanku dan ia mengajakku duduk di balcon kamarnya dan ia menyanyikan lagu untukku.

Justin memintaku untuk tidak pulang dari hotelnya karena dia sangat kesepian berada di kamarnya sendirian. Menurutnya dia ingin ada belieber yang selalu ada di sampingnya. Ia menginginkan hal itu tapi Scooter melarang Justin karena takutnya para belieber yang lain akan mengancam Justin karena mereka merasa tidak terpilih menjadi teman dekat Justin. Itu hanya sebuah resiko tapi Justin selalu menganggap beliebers adalah keluarga.
“tapi aku senang jika ada kau bersamaku. Kau mau kan menemaniku selama aku pergi tour?”
“selama aku bisa” jawabku.
“kau berasal darimana, shawty?”
“a-a-a-aku dari Kanada, Justin”
Justin terkejut. Dia memasang wajah seakan mengatakan, kau yakin? Sekarang kau sedang berada di Spanyol. Kami bertatapan sangat lama. Kami berdua sama-sama tidak tahu harus berbicara apa. Namun tiba-tiba pintu kamar ini ada seseorang yang mengetuknya dan itu membuyarkan pandangan kami berdua. Justin langsung beranjak dari kursinya dan menuju pintu kamar ini, dia membukakan pintu. Ternyata Scooter di sana.
“kau siap untuk konser sekarang?”
“I’m everything ready show for my beliebers”
“kalau begitu segera ke loby. Di sana semua menunggumu”
“baiklah”, Justin hendak menutup pintu tapi Scooter membuka pintu nya dan ia menunjukiku yang sedang duduk di balcon dengan wajah polos. Belum Scooter menanyakan apa yang ingin tanyakan kepada Justin, Justin langsung menjawabnya.
“dia gadisku”
Scooter lantas terkejut dan ia langsung mengangguk. Secepatnya Justin menutup pintu dan meninggalkan Scooter di luar sana. Justin berjalan ke arahku, aku segera berdiri.
“shawty, kau mau ikut denganku konserkan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa aku begitu terhipnotis dengan Justin karena tatapannya yang memandang mata ku begitu lembut dan aku meninggalkan sekolah hari ini. Justin mengambil sebuah kaos berwarna ungu-abu-abu polos dan memberikannya kepadaku. ia menyuruhku untuk memakai kaos itu. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar Justin itu. Di dalam kamar mandi itu aku sangat tidak yakin dengan apa yang aku dapati pagi ini. Aku menjadi Belieber yang bisa selalu berada di sisi Justin? Justin Bieber ! idolaku.
Aku melepas pakaianku dan hendak memakai kaos pemberian Justin itu. Saat aku memakainya aku membaca sebuah kertas yang tertempel di kamar mandi itu. Iseng-iseng aku membacanya, tentang sebuah peraturan kamar mandi hotel. Tapi tiba-tiba entah mengapa ada angin ribut yang muncul d sela-sela dinding kamar mandi dan muncul sebuah majalah. Majalah aneh itu. Majalah itu terjatuh di hadapanku dan ia langsung membuka lembaran-lembaran dengan cepat. Aku berteriak tapi kamar mandi ini seperti hampa. Aku langsung tersedot ke dalam majalah aneh itu.

Sekitar lima belas menit, Justin sudah menungguiku di balik pintu kamar mandi. Karena sangat lama ia menungguiku, jadi ia mengetuk pintu kamar mandi. Tapi tidak ada respon dan ia langsung menggedor pintu itu dan sama sekali tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Justin langsung membuka pintu kamar mandi untungnya pintu it tidak terkunci dan saat ia membukanya tak ada orang di dalam kamar mandi itu. Ia hanya menemukan pakaian yang terjatuh di lantai. Pakaianku tadi.

Aku terjatuh dari tangga rumahku dan aku terguling jatuh menuruni tangga sampai ke lanta dasar. Badanku sangat pegal dan begitu sakit. Kepalaku sangat pening dan pusing. Ibuku langsung menghampiriku dan mencoba menyadarkanku. Ibu membawaku ke kamarku dan membaringkanku di kasur. Dia membawakan secangkir the hangat dan perban untukku. ia melilitkan perban di lengan kananku yang terluka.
“i-i-ibu, aku ada di kamar?” tanyaku setelah ibu selesai memberi perban.
“iya, sayang. Kau kenapa bisa terjatuh dari tangga? Kau masih mengantuk? Kau tidak ingin pergi sekolah, sayang?” ibu balas bertanya, membelai rambutku. Aku hendak menceritakan semua masalahku saat aku bertemu Justin sebenarnya. Tapi percuma, ibu pasti tidak akan percaya padaku.
“Steffani?” ibu menyadaranku. Aku langsung tersenyum.
“aku hanya kelelahan untuk hari ini dan sepertinya lengan kananku patah”
“kau terlalu sibuk twitter dan facebook-an, ya, larut malam? Sampai kamu kelalahan dan demam seperti ini. Apalagi sekarang lenganmu patah, Steffani. Ayo kita ke rumah sakit”
“baiklah, bu”

***

Sepulang dari rumah sakit aku mendapatkan lengan kananku di perban dengan perban berwarna hijau. Entah mengapa aku mendapatkan perban warna ini. Ini membuatku seperti berlumut. Aku menuju kamarku. Aku mencari-cari majalah aneh itu. Aku hendak akan membuangnya. Sebenarnya aku juga senang bisa bertemu Justin karena majalah itu yang membawaku. Tapi, entah mengapa majalah itu juga membawa sial kepadaku. kini aku terhenyak di kasurku. aku fikir majalah itu bisa membawaku bertemu Justin Bieber setelah aku membaca kolom berita tentangnya di dalam majalah itu. Lalu aku dapat kembali ke rumahku karena aku membaca tulisan apapun di sana. Jadi, intinya majalah ini membawakanku keberuntungan dapat bertemu Justin. Aku mencari-cari majalah itu di kamarku tapi aku tidak menemukannya sekarang dan mencari majalah itu sekarang membuat kepalaku pening dan lengan kananku gatal. Jadi aku mengurungkan niatku mencari majalah aneh yang sekarang aku beri nama lucky magazine itu. Lebih baik aku tidur dengan pakaian ungu-abu-abu pemberian Justin ini. Aku sangat bangga. Bangga bisa bertemu Justin dan Justin membuatku begitu bahagia.

***


“kita bisa terlambat konser, Justin” kata beberapa orang yang berada di loby di sana.
“tapi aku tidak akan pergi sampai aku menemukan wanita yang bersamaku tadi di kamar”
Lalu semua yang ada di sekeliling Justin, seluruh crew nya begitu kaget mendengar jawaban Justin. Mereka mengira bahwa Justin sudah begitu nakal, membawa seorang wanita ikut bersamanya konser dan dalam satu kamar. Justin mengerti semua pemikiran orang-orang di sekelilingnya itu. Lalu dengan cepat ia membantah.
“dia hanya seorang Belieber dan kami baru saja kenal sepuluh menit yang lalu”, Justin langsung mengambil jaketnya dan meninggalkan semua nya di lobi dengan bingung mendengar Justin barusan. Justin bergegas memasuki bus pribadi konsernya.

***

Malam ini aku ditemani beberapa bintang yang terang bersama sebuah bulan yang membuatku tersenyum sendiri di atas balcon kamarku sambil mendengarkan lagu dari Justin Bieber yang berjudul Can’t let Go. Dari tadi pagi aku tidak mengganti pakaianku, aku masih memakai kaos pemberian Justin ini. Aku jadi teringat kejadian tadi pagi. Aku sungguh tidak menyangka bahwa aku bisa bertmu Justin yang kedua kalinya. Apalagi aku bertemun pertama kalinya saat aku menjadi OLLG. Bagaimana aku tidak bangga saat aku memikirkan ini semua? Justin, aku ingin bertemumu kembali.
Aku menuju ke dalam kamarku. Aku kembali mencari majalah keberuntungan itu kini aku menemukannya di atas meja belajarku. Aku tersenyum bahagia. Kemudian aku membuka lembaran bagian yang aku cari. Di sana kolom itu terisi sebuah berita yang berjudul, Justin Bieber menangis saat menyanyikan lagu Be Alright. Aku membaca berita tersebut dan seperti biasanya timbullah angina ribut di sekitarku dan aku langsung masuk ke dalam majalah itu. Aku sudah tidak sabar bertemu Justin kembali.

aku terduduk di sebuah bangku taman di sebuah taman yang sangat luas. Awalnya aku begitu takut saat aku tiba di sini karena di sini begitu gelap tapi saat aku memperhatikan sekitarku aku berada di sebuah taman di belakang hotel dan aku menemukan seseorang sedang duduk sendiri di sebuah bangku lainnya di dekat kolam air pancuran. Aku berjalan mendekati orang itu, dia adalah Justin Bieber.
Aku duduk di sebelahnya. Dia tidak tahu saat ada seorang wanita yang duduk di sampingnya. Tampaknya Justin sedang melamun dan wajahnya sangat sedih. Lalu aku berdehem di sampingnya.
“malam, Justin Bieber” sapaku. Aku memperhatikan wajahnya. Dia menoleh ke arahku. Dan sebuah senyuman manis terpancar dari wajah Justin. Aku langsung membalas senyumannya. Dia seakan berkata,kau datang juga akhirnya. Dia memelukku tiba-tiba. Aku hendak membalas pelukannya namun lengan kananku merintih sakit. Justin melepas pelukannya dan ia memegang lengan kananku yang dibalut perban itu. Dia menanyaiku, mengapa tanganmu, shawty?
“aku menjatuhkan diriku dari tangga rumahku” kataku. Justin tertawa, dia mengacak-acak rambutku. Aku tertawa bersamanya. Kami seperti sudah begitu akrab. Kemudian dia memperhatikan kaos ku. Kaos pemberiannya.
“kau tadi pagi pulang? Tapi mengapa sampai malam ini kau tidak mengganti pakaianmu?” Tanya Justin, belum aku menjawab Justin kembali menanyaiku, “mengapa aku tidak menemuimu saat kau mengganti pakaianmu di kamar mandi kamar hotelku?”
Aku bingung akan menjawab apa, namun aku menjawab dengan bohong dan begitu santainya, “aku tadi sudah keluar dari kamar mandi saat kau tidak mengetahuinya. Aku kabur dari kamarmu. Karena… karena… aku lapar”, entah mengapa alasan akhir ku begitu bodoh untuk dicerna dalam pembicaraanku. Justin tertawa kecil mendengar jawabanku. Dia kembali mengacak-acak rambutku dan tersenyum manis. Aku hanya menundukan kepalaku.
“kalau kau lapar, aku bisa membelikan apapun untukmu” ucap Justin, “kalau begitu kau mau, kan, menemaniku makan di restoran sebrang sana?” Justin menunjuk sebuah restoran di pinggir jaan d sebrang hotel ini. Aku ingin menjawab tidak tapi Justin langsung menarik tanganku dan ia membawaku berlari menelusuri taman ini. Dia begitu bahagia saat aku tiba di sampingnya. justin, apa kamu kesepian? Aku berjanji akan membutuhkan majalah keberuntungan itu untuk terus bersamamu. Dan jika ini memang mimpi aku berharap aku tidak akan terbangun dari tidurku. Aku akan menjaga mimpi ini selamanya agar aku bisa terus bersamamu.
Di sebuah restoran itu, kami memesan dua porsi makanan yang sama, soup ayam hangat dengan dua gelas juice. Sejak tadi kami terus tertawa dan tersenyum bahagia. Justin begitu senang saat aku tiba di sisinya. Saat aku hendak memakan makananku dengan lengan kananku, aku merintih sakit. Justin langsung membantuku dan menghelus lengan kananku dengan lembut. Justin begitu perhatian denganku. Lalu ia mengambil sesuap makanan untukku. dia menyodorkan sesendok makanan itu ke bibirku, “ayo shawty makanlah”, aku melahap makanan itu. Justin tersenyum. Lalu ia kembali memintaku untuk memakan dengan suapan yang ia berikan. “tapi, Justin, kau belum menghabiskan makananmu?” kataku. “selama kau belum menghabiskan makananmu, aku takkan memakan”  jawabnya. Aku kini dengan beraninya aku mengacak-acak rambut Justin. Dia tertawa.

Malam itu aku bersama Justin kembali ke hotel. Kami berdua dengan diam-diam kembali memasuki hotel tanpa ada orang yang akan memperhatikan kami. karena Justin takut kalau ada orang yang akan memberitakan yang tidak-tidak tentang diirinya jika melihat aku bersamanya. Setibanya di dalam kamar hotel Justin, aku dan dia duduk di atas kasur tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Kemudian Justin membatingkan tubuhnya. Dia terlihat sangat kelelahan.
“aku akan mengambil masa liburanku secepatnya” ungkap Justin dengan nada parau. Dia terlihat sedih.
“mengapa? Bukannya Believe Tour belum berakhir?” tanyaku.
“tapi aku merindukan kampong halamanku. Kanada”
“kita sama-sama berasal dari Canada, Justin?”
Justin hanya tersenyum. “kau takkan pergi lagi, kan, shawty?”
Aku menggeleng. Selama kau tak memaksaku untuk membaca kalimat apapun, kataku dalam hati. Justin merekahkan senyumannya. Dia membagi tempat tidurnya yang luas itu denganku. Aku membataskan guling hijau di antara kami. kami berduapun tertidur lelap hingga pagi datang memaksakan kami berdua bangun dari tidur kami. kutemui ketika aku terbangun Justin menggenggam tangan kiriku saat ia masih terlelap tidur dan guling hijau itu sudah berada di lantai.
Aku mencuci muka dan mencuci rambutku. Justin sudah siap dengan gagah dan rapi di atas sofa. Dia tampaknya sangat gembira saat menyambutku keluar dari kamar mandi. Aku merasa ada yang salah dengan penampilanku. Aku memperhatikan diriku di depan cermin besar. Justin berdiri di belakangku sambil menyengir. Aku bingung. Apa aku seperti alien dari planet Mars?
“kau sangat lucu” ucap Justin di sela-sela tawanya. Justin merpihkan rambutku, dia menyisir rambutku yang berantakan. “sebaiknya setelah mencuci rambut segera di keringkan. Kan, lucu, ngeliat kamu seperti ini”
Aku hanya terpaku menatap pantulan kami di depan cermin. Justin menyentuh rambutku dan menyisir dengan pelan. Justin menyodorkan hairdryer kepadaku. dia memintaku untuk mengeringkan rambutku. Aku menyetujui permintaannya. Sembari menungguku Justin tampaknya sibuk dengan percakapannya di telefon. Ada bentakan yang aku dengar di sela pembicaraan mereka. Entah dengan siapa Justin berbicara itu, dengan bersamaan dia mengakhiri telefonnya aku selesai mengeringkan rambutku dan Justin datang menghampiriku. “aku suka penampilanmu” pujinya. Aku hanya tersipu malu ketika idolaku membisikkan kalimat yang sangat aku sukai itu.
“pagi ini aku akan mengajakmu jalan bersamaku” katanya, Justin menarik tanganku yang diperban. Aku mengeluh, “huh justin!”
“tapi… sebentar Justin apa tidak masalah? Bagaimana dengan manager-mu? Dia mengizinkanmu, Justin?”
“tentu iya, barusan aku menghubunginya dan kita akan jalan dengan mobil miliknya”
Justin menarikku keluar dari kamarnya. Aku hanya mengikuti langkahnya. Setibanya di depan mobil sport milik Scooter, Justin membukakan pintu untukku. aku duduk di sampingnya menyetir. Justin mengendarai mobil dengan pelan di jalan raya yang ramai lancar.

Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam, malu-malu untuk bertatapan dan kami hanya saling melirik diam-diam. Sejujurnya aku ingin pulang ke rumah. aku takut di marahi ibuku karena semalaman aku tidak ada di rumah. pasti ayah dan ibu sangat khawatir mencariku.
Kami tiba di sebuah gedung bertingkat yang sangat besar. Ada papan besar bertuliskan SPAIN MALL di depan gedung itu. Aku fikir Justin akan mengajakku shopping membeli perlengkapan camping-ku untuk kabur dari rumah, namun tebakanku salah, kami akan bermain di zona permainan di Mall.
Kami memilih untuk bermain basket dan berlomba diantara kami siapa yang mendapatkan score lebih banyak dan tentu jelas Justin-lah yang menjadi pemenangnya. Lalu Justin mengajakku bermain permainan lainnya. Hingga Justin memintaku untuk bertanding bermain mengendarai motor-motoran di sana. aku awalnya tidak setuju karena aku malu, aku seorang perempuan. Tapi karena Justin memaksa jadi aku menyetujuinya. Ketika aku menaiki motor-motoran itu, tiba-tiba Justin langsung ikut duduk di belakangku dan kami berdua duduk sangat berdempetan dan sempit di atas motoran itu. Jantungku berpacu sangat cepat dan tubuhku mulai dingin. Saat Justin menyentuh kakiku dengan lembut, dia mengangkat kakiku untuk di pijakkan di sebelah kakinya. Ada rasa senang dan takut ketika Justin duduk tepat di belakangku dan dia mendekatkan tubuhnya ke punggungku. Justin menyentuh kedua tanganku agar mengiringku untuk memainkan motor-motoran ini. Ketika permainan dimulai, dia berseru di belakangku.
Semua orang tertuju pada kami, memperhatikan kami dengan fikiran mereka yang berbeda-beda. Saat games pertama berakhir, Justin memasukan kembali koin dan kami bermain sebanyak hampir empat kali dan itu membuatku meleleh bersamanya.
Selesai bermain Justin menarikku menuju pakaian yang di sana terdapat banyak pakaian couple. Justin terus menarikku dengan penuh semangat namun tungkai kakiku rasanya patah dan Justin malah terus mengajakku berjalan. Justin memilih kaos berwarna ungu couple. Kembar. Hanya berbeda tulisan. Tulisannya hanya merk kaos saja dan tak berarti apa-apa. Setelah membayarnya Justin menyuruhku untuk memakai kaos itu, begitu juga dengan Justin. Kami memakai pakaian yang sama.
Jam 6 PM. Sejak tadi pagi sampai sore ini kami menghabiskan waktu bersama-sama keliling kota. Aku dan Justin tampak sangat akrab. Sangat akrab. Meski kami berdua tahu banyak paparazzi yang memotret kebersamaan kami seharian ini. Tapi Justin sangat cuek dan dia menikmati kebersamaannya bersamaku.
Setelah nonton di bioskop kami akan pulang kembali ke hotel. Di dalam mobil sepanjang perjalanan kami hanya bicara seadanya dan tidak begitu seheboh kami berada di luar mobil, karena menurutku di dalam mobil itu sunyi dan sangat menikmati kebersamaan berdua. Apalagi mobil sport, hanya khusus untuk dua penumpang termasuk yang menyetir.
“besok aku akan konser di Las Vegas,” kata justin, memecahkan kesunyian diantara kami. “kau janji ya akan ikut bersamaku selama aku tour?” Tanya Justin dengan nada rendah. Dia menatapku sekilas dengan wajah sedihnya. Aku mengangguk dengan yakin, aku memegang telapak tangan Justin yang memegang porseneling. Tak terasa Justin membalas genggaman tanganku. Hingga tiba di hotel aku tidak sadar bahwa kami sejak tadi masih berpegangan tangan.

Malam itu Justin mengajakku untuk makan malam di hotel. Tapi aku jelas menolak ajakannya meski ia memohon-mohon. Itu aku lakukan karena aku sangat malu jia bergabung dengan crew-nya. Aku mengaku, aku hanya seorang fans, lebih dari fans, aku BELIEBER tapi aku tidak punya hak bisa terus bersama Justin tentu ini akan menjadi kontorvesi di kalangan banyak orang. Aku tidak mau berebihan bersama Justin tapi tentunya diumurku yang 17 tahun tentu bisa merasakan cinta. Cinta terhadap idola. Cinta perasaan kepada Justin Drew Bieber. Seharian ini sudah membuatku cukup bahagia. Seharian ini. Bagaimana dengan beberapa bulan ke depan karena Justin memintaku untuk terus bersamanya, seharian ini akan menjadi sangat lebihi jika sebulan akan terus bersamanya dan kontorvesi antara belieber akan membuat penilaian terhadap diriku. Aku tidak mau menjadi pemecah hubungan antara Justin Bieber dengan Beliebers lainnya. Aku, aku hanya Belieber.
“kalau kau tidak mau makan malam bersamaku, kau janji akan terus di sini sampai aku kembali, kau berjanji shawty?”, Justin menyodorkan jari kelingkingnya. aku mengaitkan jari kelingkingku. Kami jabat salam perjanjian. Justin tersenyum kemudian dia mengacak-acak rambutku lalu kabur sambil tertawa meninggalkan kamar ini bersamaku. Aku hanya tertawa melihat kepergiannya.
Saat aku sendirian, kini aku tersadar bahwa aku sudah meninggalkan rumah lebih dari 24 jam dan itu tentu membuat kedua orang tua ku khawatir. Aku harus balik pulang. aku mencari majalah apapun yang akan aku baca. Tapi sebelum berniat akan segera pulang aku mencari secarik kertas dan menulis sebuah pesan yang akan kutinggalkan untuk Justin. Selama aku menulis aku tidak akan membaca pesanku sendiri. Setelah selesai dan yakin bahwa tidak ada kata yang salah, aku letakkan di atas kasur. Lalu aku mencari majalah dan tidak menemukannya. Karena aku takut kelamaan dan Justin akan datang maka aku membaca pesanku sendiri. Seperti biasanya, tiba-tiba majalah keberuntungan itu hadir dan membawaku kembali ke rumah.

***

“kuharap Steffani sakit atau dia tertidur pulas dua hari belakangan ini” kata seseorang yang berjalan mendekati kamarku. Itu suara kakak ku, Johny. Dia mengendap-endap menaiki lantai atas menuju kamarku. Buru-buru aku langsung menuju kasurku, membalut tubuhku dengan selimut meletakkan tanganku yang diperban di luar selimut agar Johny akan jelas melihatnya.
Tebakanku benar, johny memasuki kamarku. johny menatap ke atas kasur dan menemukanku tertidur membelakanginya. Dia menggumam bahagia, “syukurlah”. Karena penasaran apa aku benar-benar tidak sadar ketika johny ada di kamarku, dia melangkah pelan mendenkatiku tapi kakinya menginjak sebuah majalah keberuntunganku, Johny merasa terperanjat karena ia tahu jika aku mengetahuinya telah merusak majalahku, tentu aku akan membakar satu set drumnya serta mengempiskan roda ban mobilnya. Johny mengambil majalahku itu dan ia menemukan covernya telah lenyek dan berbekas jelas jelek sepatu kotor milik Johny. Karena takut, Johny lalu memungut majalah itu dan bergegas keluar dari kamarku. tapi, aku tidak tahu apa yang barusan Johny lakukan. Ketika aku membalikkan tubuhku aku tidak menemukan majalah keburuntunganku dan mendapatkan jejak kaki sepatu kotor berhenti di tempat majalah keberuntunganku tadi terakhir aku letakan.

***

Dua bulan berlalu….


Banyak kejadian yang aku alami belakangan terakhir bulan ini. Aku stress berat dan mengurung diriku di dalam kamar selama seminggu penuh. Menyelidiki siapa yang mengambil majalahku dan aku mengetahuinya bahwa Johny yang melakukan itu bahkan ia membuang majalah keburuntunganku itu di tempat sampah dan aku tidak bisa menemukan jalan ke tempat aku bisa bertemu dengan Justin. Tent u aku langsung membakar satu set drumnya dan membocorkan keempat ban mobilnya, menghancurkan jendela mobilnya juga merobek semua buku koleksi band-nya. Itulah yang membuat stress berat bahkan liburan musim panas kali ini aku hanya mengurung diriku di rumah tepatnya di dalam kamar dan berharap musim panas akan panjang membuatku melupakan semua kenanganku bersama Justin Drew Bieber. Bahkan aku menyembunyikan dua kaos pemberian Justin di dalam lemariku dan aku takkan mau mengambil dan memakai kaos itu lagi.
Semua ini gara-gara Johny. Johny membuatku tidak bisa bertemu lagi dengan Justin Drew Bieber. Ayah dan Ibu tentu tidak akan mengizinkanku jika Justin akan konser di Canada. Tapi aku berat untuk menghapus semua foto yang ada di ponselku sejak aku foto-foto bersama Justin dan semuanya tidak ada yang aku tinggalkan untuk di print dan dipajang di dinding meski aku berusaha untuk melupakannya. Itu begitu sulit.
Aku juga jarang untuk mengaktifkan laptopku untuk Facebook atau Twitter. Aku sempat buka Twitter dan menemukan bahwa Justin menulis di twitter nya: aku kehilangan seorang wanita (belieber) dan terakhir dua tulisan yang aku temukan di twitter Justin adalah: aku memakai kaos kembaran yang aku beli bersamanya, aku merindukanmu shawty juga: sampai sekarang suratmu malam itu masih aku simpan. Aku fikir Justin sangat berlebihan dan baru kali ini aku membaca tulisan Justin di twitter berlebihan seperti itu. Semua media banyak memberitakan Justin yang kini mulai hilang dari media dan menggagalkan beberapa undangan konser di berbagai daerah. Justin kini sedang berlibur di suatu daerah dan Justin tidak memberitahu kepada media manapun dia sedang berada dimana. Dia sedang berlibur bersama keluarga dan sahabatnya.
Beberapa minggu itu aku melewatkan majalah-majalah langgananku yang tertumpuk di depan teras. Ibu sudah memungutnya dan meletakkannya di rak kamarku tapi aku tidak ada satupun yang aku baca padahal semua covernya Justin Drew Bieber dan berita penting mingguan itu adalah JUSTIN DREW BIEBER KEHILANGAN BELIEBER WANITA YANG IA RINDUKAN. Astaga, sekepo itukah para wartawan? Setahu aku Justin sangat bisa menyimpan rahasianya walau dia hanya benar-benar menulis yang menjadi misterius di twitternya. Tapi, stress berat ini membuat tangan kananku yang patah menjadi pulih kembali.
Musim panas akan berakhir, aku mendapat tugas untuk menceritakan pengalaman akhir musim panas di depan kelas nantinya. Tapi, apa yang akan aku ceritakan? Menderita stress berat selama sebulan di dalam kamar?
Ini adalah hari Sabtu tapi aku mendapatkan majalah baru di depan teras rumah. yang benar saja, apa pengantarnya begitu bersemangat mengantar majalah di hari sabtu? Aku membaca majalah baru itu sambil berjalan menuju lantai atas kamarku tapi tiba-tiba aku terjatuh ke lantai dan semuanya menjadi gelap.

***

Samar-samar aku memandang sekitarku. Aku mendapatkan diriku di sebuah ruangan serba putih. Apa aku berada di surga?  Aku menemukan ibu dan ayahku yang ada di samping kananku serta Johny dan Russel yang berdiri di samping kiriku, mereka mencercahkan senyuman mereka saat aku mulai membuka mataku dan berkata, “justin bieber”
“sayang, maafkan ibu karena meninggalkanmu dua hari di dua bulan lalu saat tanganmu patah itu, sayang, ibu dan ayah serta Russel pergi ke rumah nenek dan tidak membawamu. Jadi, ibu menitipkanmu bersama Johny, tapi, Johny malah berpesta bersama teman-temannya di rumah. ibu sangat kecewa dengan sikap bodoh ibu itu. Itu adalah tanggung jawab yang besar bagi ibu meninggalkanmu bersama Johny” jelas ibu, ada air mata yang mengalir dari kedua kelopak mata ibu yang hangat, “selama Steffani terus-terusan di kamar, ibu sangat sedih karena ibu terlalu mengancam steffani untuk tidak terus-terusan mengidolakan justin. Ibu janji, ibu akan membelikan tiket konser untukmu VIV di konser justin Bieber di Canada nanti” air mata itu membuat mata ibu merah dan dengan keadaanku yang lemah aku mengelap ar mata itu dengan jemariku. Ibu menggenggam tanganku dengan erat.
Johny berdeham, “aku membencimu Steffani, sangat membencimu karena telah menghancurkan semua barang pribadiku yang sangat aku sayangi… tapi itu semua memang kesalahanku. Aku yang membuang majalahmu dan aku berjanji tidak akan menjadi kakak yang nakal dan jahat lagi terhadapmu” jelasnya, johny mengacak-acak rambutku. Kami semua tertawa kecil di tengah kelemahanku aku menggenggam tangan ibuku dengan erat.
“ada apa sayang?” Tanya ibu, aku menggeleng pelan, “menurut dokter tadi Steffani sudah sembuh, kok,”
Tiba-tiba ayah mendapatkan panggilan di telefon dan orang ditelefon itu meminta ayah untuk kembali bekerja. Jadi, keluargaku meninggalkanku sendiri di dalam ruangan di rumah sakit ini. Setelah mereka pergi aku mengambil majalah yang ada di atas meja. Majalah edisi hari sabtu yang aku temukan pagi tadi. aku membaca majalah bagian justin Bieber dan tiba-tiba mataku sayup-sayup. Lalu aku tidak merasakan apa-apa. Semuanya gelap.

“shawty, shawty, shawty….”
Telingaku mendengung. Terdengar suara nafas seseorang yang berada di sampingku. Dengan berat aku membuka kelopak mataku dan kudapatkan seorang pria dengan wajah cemasnya berdiri sambil memegang bahuku. “justin Bieber?”
Justin, pria itu adalah justin.
Aku memperhatikan sekelilingku. Apa aku berada di dunia nyata? Atau sekedar mimpi? Atau aku telah berada benar-benar bersama Justin Bieber setelah aku membaca majalah edisi sabtu itu?
“aku sangat merindukanmu shawty” kata Justin, dia menggenggam tanganku, “bagaimana dengan keadaanmu?”
Bukannya aku menjawab, aku hanya diam memandang wajahnya. Aku mencari ibuku atau ayahku atau siapa sajalah yang ada di sini agar aku percaya bahwa aku sedang tidak bersama Justin Bieber.
“shawty?” , Justin mengguncangkan bahuku, pelan. Aku memgangi kepalaku yang pening, dibebani banyak pertanyaan yang membenak. Aku tidak ingin berada di dunia nyata dan bertemu justin, lagi, karena majalah itu. Aku ingin menjadi Belieber yang mendapatkan keberuntungan dengan nyata.
Seketika justin lalu memelukku dengan erat. Aku mendengar suara hembusan nafasnya yang aku tahu nafas itu adalah sesak yang sedih.
Seorang suster memasuki ruangan dengan membawa keranjang jalan penuh banyak makanan. Suster itu memberikan jatah makananku kepada justin dan meminta justin untuk memberikan makanan itu kepadaku. sepeninggalan suster itu justin langsung mengembangkan senyuman di bibirnya. Ia menyuapiku makanan, awalnya aku dengan tegas menolak tapi justin memasang raut wajah sedih dan itu membuatku tidak tega melihatnya dengan wajah seperti itu. Aku tertawa dan justin ikut tertawa bersamaku ketika justin menceritakan hal lucu yang ia lakukan selama aku hilang darinya, dua bulan.

Pagi itu di rumah sakit sangat ramai. Banyak anak kecil dengan tubuh pucat yang dikujuri rasa sakit duduk bersama kedua orang tuanya di ruang tunggu. Aku meminta justin mengantarku menju taman di dekat air pancur, taman ini berada tepat di tengah rumah sakit. Banyak anak kecil yang berkeliaran di sana, anak-anak kecil itu sedang mengidap penyakit yang harus membuatnya menginap di rumah sakit ini. Aku duduk bersama justin tepat di depan pancuran air. Tak kusadari justin menggenggam erat telapak tanganku dan aku membalas genggaman tangannya. Kami berdua hanya saling diam. Hingga ketika ada seorang anak perempuan kecil yang rambutnya banyak dipetak dikarenakan operasi di kepalanya. Anak kecil ini memngidap penyakit kanker , dia sedang berjalan dengan kursi roda mininya di hadapan kami, aku lantas mendekati anak perempuan itu.
“hai, manis” sapaku. Anak perempuan itu terkejut, kemudian melontarkan senyuman manis di bibirnya. “aku mengenalmu,” kataku. Yup, aku memang mengenalnya, dia pernah dberitakan di Koran pagi karena mengidap penyakit kanker di usia dini.
Dia hanya memurungkan wajahnya menyembunyikan luka sedih di hatinya. Aku merogoh saku celanku dan menemukan sekantung wafer yangkuberikan untuk anak itu. Dia tersenyum dan aku menyelipkan bunga berwarna merah di sela telinganya. Anak itu tampak cantik. Justin yang tadnya bengong langsung ikut menghampiriku. Sementara aku banyak berbicara dengan ank kecil itu, justin malah sibuk memperhatikan wajahku dengan tatapan wajah romantisnya. Sesaat suster membawa anak perempuan itu pergi dari kami.
“aku tidak mengerti bahwa ternyata kamu memang sebaik itu kepada orang lain” kata justin.
“huh, aku memang baik tahu!” aku mengepalkan tanganku dan meninju lengannya. Justin menghelus-helus lengannya dan bukannya mengeluh sakit, ia malah tertawa dan berkata, “kamu cantik juga saat sedang cemberut”
Aku ge-er saat justin berkata seperti itu. Tapi aku langsung memasang wajah marahku dan meninggalkannya pergi. Dia mengerjarku dan aku memeprcepat langkahku pergi meninggalkannya. Sembari kami berkejar-kejaran dan tertawa, aku mulai menyisihkan rasa sakitku dan aku fikir aku ingin segera pulang.

Jam 12 siang ibu datang menjemputku untuk pulang dari rumah sakit. Menurut dokter luka di kepalaku sudah sembuh dan ibu membawaku pulang kembali ke rumah. sebelum ibu datang aku memang tertidur pulas karena lelah habis berkejar-kejaran dengan justin. Tapi sebelum akupun tertidur justin menyanyikanku lagu Never Let You Go dan akhirnya aku tertidur hingga terbangun aku tidak menemukan justin.
Kamarku tampak sangat rapi setelah aku pulang dari rumah sakit. Ibu membuatkan secangkir coklat panas untukku dan aku menikmatinya di balcon kamarku. aku memakai kaos couple yang justin belikan untukku. sebenarnya aku sudah berjanji tidak akan memakai baju ini lagi, tapi entah mengapa sesuatu membisikkanku dan memintaku agar memakainya.
“Steffani, ibu pergi dulu! Jaga rumah baik-baik!!!” teriak ibu dari lantai bawah. Astaga, baru pulang dari rumah sakit ibu sudah harus meninggalkanku pergi? Jadi, hari ini aku benar-benar sendirian lagi di rumah. aku sangat bosan. Aku mencari hiburan lainnya dan aku kembali membaca majalah-majalah yang tertumpuk. Aku hanya cukup membaca bagian kolom berita justin dan hingga akhirnya aku kelelahan membaca dan ingin mencerahkan bola mataku dari sederatan kata untuk keluar rumah.
ketika aku berada di luar rumah, berdiri di halaman depan aku melihat sebuah mobil sport yang aku kenal memasuki garasi rumahku. Aku bengong. Tapi seketika seseorang turun dari mobil dan berteriak, “aku kembali untukmu”, itu justin. Ya tuhan, aku membaca banyak majalah di kamar tadi, aku tidak berniat memanggil idolaku datang kemari. Tuhan, tolong jangan kacaukan aku lagi. Aku ingin bertemu idolaku dengan usaha kerasku sendiri, bukan karena panggilan majalah aneh. Aku janji, setumpuk majalahku akan aku bakar setelah justin lenyap dari hadapanku yang seraya menarik tanganku ini.
Justin membawaku jalan keliling kota kecilku. Dia takjub dengan perubahan yang terjadi dengan kota nya ini juga. Sebanyak apapun justin berbicara dan menanyaiku sejak tadi, aku hanya diam, diam dan diam. “aku senang punya Belieber seperti kamu,” ucapnya. Dan itu adalah ucapan yang sudah ia lontarkan berkali-kali padaku sepanjang jalan. Sampai akhirnya aku bosan dengan sikap idolaku ini aku membentaknya dengan penuh emosi, “turunkan aku di sini!”
Justin lantas menghentikan mobilnya seketika, tidak peduli suara klakson kendaraan yang berada di belakang mobilnya. Justin menatapku dengan kecewa. “kau marah padaku, shawty?”
Dasar bodoh, gumamku. “aku ingin pulang” ketika hendak aku ingin membuka pintu mobilnya justin langsung menjalankan mobilnya dengan laju. Membawa mobil dengan adrenalin yang tinggi. Mengebut dengan kencang melewati batas kecepatan peraturan di daerah itu. Aku terlonjak histeris dan berteriak sekuat-kuatnya meminta justin untuk mengehntikan mobilnya, segera!
Mobil inipun berhenti di sebuah bukit yang sangat tinggi. Terlihat jelas aku dapat memandang semua isi kota dari ketinggan ini. Dari dalam mobil ini, aku menganggumkan pemandangan ini. Semua ini membuatku lupa bahwa aku ingin segera pulang meninggalkan justin.
“jadi, kau tak marah lagi denganku?”
Aku menoleh padanya, “terimakasih telah membawaku kemari. Aku belum pernah kemari sebelumnya” aku meliriknya, memberikan senyuman manis d bibirku. Justin menatapku dengan lembut.
Aku kembali memandang keluar jendela, mencoba menerka mencari dimana letak rumahku jika dilihat dari atas sini. tiba-tiba justin menyentuh tanganku dengan lembut, aku menatapnya. Mata kami saling bertemu. Justin mengeluarkan sebuah secarik kertas yang sudah snagat kummel dan lenyek. “kau ingat suratmu ini? Aku selalu menyimpannya dan berharap ada namamu yang kamu tulis di surat ini. Tapi, semenjak kamu menghilang tanpa mengingatkanku namamu, itu membuatku frustasi”
frustasi?” aku mengulang kalimatnya, aku masih tidak mngerti pada kalimat itu.
“aku menyukaimu, shawty. semenjak kau menjadi OLLG di London saat itu”
Jantungku berpacu sangat kencang. Bahkan semakin berdentam hebat saat justin menggenggam kedua telapak tanganku. Aku ingin kabur dari mobil ini karena aku sungguh takut dalam sebuah ruangan yang hanya memancarkan aura untuk dua orang yang hampa tanpa pembicaraan.
Justin Bieber, idolaku itu menghela nafasnya dengan pelan dan kemudian dengan ragu dan malu ia berkata, “Steffani, kamu mau menjadi pacarku?”
ini mimpi. Aku yakin ini adalah mimpi. Segera aku menghempaskan genggaman justin dan membuka pintu mobilnya. Aku berlari menghambur keluar tanpa menatapnya yang bengong melihatku pergi. Tapi tidak seperti yang aku fikirkan, justin malah mengejarku. Tapi aku terus berlari, namun bukit ini sangat terjal untuk dituruni dan justin masih berusaha keras mengejarku dan meneriaki namaku untuk berhenti. Hingga akhirnya aku lelah dan berhenti di bawah pohon untuk mengatur nafasku.
Sepanjang aku berlari menuruni bukit aku masih saja berada di ketinggian di atas kota. Justin mendekatiku.
“Steffani aku serius, aku mencintaimu, aku ingin kau—“
“JANGAN MENDEKATIKU!” bentakku, “kalau kau mendekat, aku akan menjatuhkan diriku ke bawah”,
“ja-jangan, shawty, dengarkan aku dulu. Aku tahu semua permasalahanmu, aku tahu soal majalah itu”
Mendengar perkataan justin itu, nafasku langsung berhenti, berharap oksigen sudah lenyap dan aku segera mati secepatnya.
“majalah? Majalah apa maksudmu?” aku mencoba menutupi diriku, seolah tidak tahu apapun tentang itu.
“majalah itu, majalah yang dapat membawamu datang menemuiku, kan? Sebenarnya majalah itu sudah menghebohkan beberapa artis lainnya. Tapi, berita itu hanya dihebohkan untuk kalangan artis yang tahu. Sebelumnya, artis lain pernah dikunjungi fans nya dengan majalah itu, tapi ternyata majalah itu mengambil tumbal. Dia selalu mencelakai pemakainya ketika melewati majalah itu” jelas justin.
Seketika aku terhenyak, majalah itu sudah membuat lengan kananku patah. “ …kebanyakan fans yang menmui idolanya dengan majalah itu meninggal setelah banyak pulang dan pergi. Aku tahu ketika kamu tiba-tiba datang di kamar hotelku saat itu. Aku tidak kaget dan aku tahu kamu tiba-tiba berada di hadapanku saat itu. Tapi… aku malah mencintaimu, Steffani. Aku bahagia saat kau bersamaku. Maka dari itu aku berharap kau tidak kabur dariku dan menetap bersamaku. Malah kamu pergi tanpa izin padaku. Aku fikir selama dua bulan itu kamu sudah tiada dan membuatku frustasi.”
Tungkai kakiku lemas. Aku tidak bisa bergegrak menjauh lagi saat justin sudah tepat berada di hadapanku. “sekarang aku benar-benar bertemu dengamu. Aku datang ke Canada untuk konser Believe Tour terakhirku dan aku berhasil menemuimu. Sekarang ini, kau bertemu denganku bukan karena majalah, Steffani, tapi kau bertemu denganku itu adalah karena niatku” tukasnya. Aku tidak bisa berbicara banyak setelah justin menjelaskan semuanya. Aku benar-benar fans yang sangat beruntung. Setelah aku ketahui bahwa aku tidak tewas karena majalah itu dan aku sekarang benar-benar bertemu justin bieber dengan secara langsung karena niatnya, juga… justin bieber menembakku?
Justin berlutut di haapanku, menggenggam telapak tanganku dan menatap mataku dengan lembut seraya berkata, “Steffani Mulqueen maukah kau menikah denganku?”
MENIKAH? Justin, pasti kau bergurau dan ngelantur. Permintaanmu tadi adalah berpacaran denganku, bukan menikah dengan ku!
“menikah?” aku bingung.
“iya, Steffani, menikah. Aku ingin menikahimu dan menjadi suamimu”
“secepat itukah?”
Justin hanya diam. Dia berdiri di hadapanku, merogoh sakunya dan mengeluarkan sepasang cincin. “ini semua membuatku tergila-gila padamu, Steffani. Aku snagat serius dan aku ingin kau menjadi istri di masa depanku”
Ini adalah sebuah mimpi yang sangat nyata. Aku sangat bahagia tapi aku ingin menangis saat yang aku tahu JUSTIN DREW BIEBER, idolaku yang sangat aku gilai mengajukan sebuah harapan agar aku menikah dengannya di masa depan. Tentu, tentu aku menerimanya.
Aku mengangguk pelan tapi yakin dan tegas, malu-malu aku menjawab, “aku menerimamu, Justin Drew Bieber”
Bukannya memelukku atau apa yang seharusnya justin lakukan denganku setelah mendengar sebuah jawaban yang harusnya membuatnya lompat bahagia, justin malah kabur menuju mobilnya yang ada di atas sana. justin meninggalkanku sendiri. Dan itu membuatku sangat-sangat bingung. Aku sepertinya telah dipermalukan oleh Justin Drew Bieber. Dia hanya membohongiku?
Aku bersandar di bawah pohon. Aku ingin menangis. Awalnya seharusnya aku menolak ajakannya itu! Aku juga tidak yakin saat justin mengajakku menikah!! Benarkan, dia hanya bercanda!
Tiba-tiba dari atas sana justin berlari membawa sebuah lingkaran yang ada di tangannya. Dia datang menghampiriku sambil ngos-ngosan mengatur pola nafasnya. Aku memasang wajah bingung.
Tiba-tiba justin menaruh lingkaran itu di atas kepalaku, sebuah mahkota yang mirip dipakai sebagai OLLG. Tapi bunganya sangat istimewa dan lebih jauh berbeda dan sangat luar biasa. Kemudian justin memasangkan cincin berwarna madu itu di jari manisku. Kemudian sambil memejamkan matanya, justin berkata, “Tuhan aku berjanji aku akan menjaga Steffani Mulqueen selama aku hidup dan aku akan menikahinya sebagai istri pertamaku dan terakhir bagiku. Amen”
Aku meneteskan air mataku. Justin sangat serius. Serius. Kami layaknya seperti sedang mengadakan ucap janji suci di dalam pernikahan. Justin kemudian memintaku untuk memasangkan cincin untuknya. Aku memasang cincin berwarna madu yang sama denganku ini di jari manisnya.
Kemudian justin membelai kepalaku dan memperbaiki posisi mahkota itu. “steffani terlihat malu sekali” bisiknya. Aku menggigit bibir bawahku karena justin sepetinya benar-benar tahu bahwa aku sangat malu karena wajahku memerah.
“jika tadinya Steffani menolak, aku yang akan melompat ke bawah dan tewas terkena batu-batu tajam di bawah sana” kata justin. Aku mengeri. Langsung aku menepis pembicaraannya!
“tentu saja aku tidak akan menolakmu, tapi karena tadi kamu tiba-tiba pergi meninggalkanku untuk mengambil mahkota ini aku ingin menolakmu”
“aku ingin membuat kejutan untukmu, Steffani” kami berdua hanya saling bertatapan.
here’s be one less lonely girl…” aku bernyanyi, menadakan nada lagu one less lonely girl karena aku jadi teringat saat aku menjadi OLLG saat itu. Kami berdua slaing tersipu, justin langsung memelukku, sangat erat. Erat sekali. Sampai mahkota itu hampir terjatuh dan dengan sigap aku mengembalikan di atas kepalaku. Justin berbisik di telingaku, “kau harus alergi terhadap majalah, Steffani”, aku geli mendengar bisikan ucapannya itu dan aku tertawa. Aku melepas pelukannya lalu meminta satu harapan padanya, “justin, aku ingin kau memanggilku shawty ketimbang namaku, karena sampai kapanpun aku akan menjadi Belieber yang sesungguhnya”
Justin tersenyum, kembali memelukku sangat erat dan kali ini lebih erat dari sebelumnya, “baiklah, shawty”
I love you, Justin
I love you, Shawty
Sesaat justin melepas pelukannya kemudian mencium bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya. kami menikmati kebersamaan kami itu di bawah pohon yang sangat rindang memandang pemandangan kota. Justin, I’ll be keep to true belieber always and forever….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar