Pagi
ini aku akan menerima majalah langgananku seperti biasanya di setiap akhir
pekan di Hari Minggu. Biasanya aku memang bangun lebih awal di Hari Minggu
daripada kedua saudaraku dan kedua orang tuaku. Tapi kali ini aku sungguh
kelelahan dan masih mengantuk. Dan itu membuatku tidak bisa hadir untuk
menerima majalahku lebih awal dan menerima nya secara langsung karena itu
adalah kebiasaanku untuk menerima majalahku. Majalah yang di dalam nya selalu
memberikan kabar-kabar terbaru dari idolaku, Justin Drew Bieber. Maka dari itu
aku tidak mau ketinggalan berita dan tidak mau kehilangan majalah langgananku
sebelum kedua saudaraku akan menyembunyikan majalah itu di tempat yang tidak
aku ketahui. Karena mereka tidak menyukai sikapku yang selalu mengidolakan
Justin Drew Bieber.
Aku
bangun dari tidurku yang sangat melelahkan ini. Aku melirik ke arah jam dinding
kamarku. Menunjukan jam 9 AM. Aku bergegas segera keluar kamar. Menuruni
beberapa anak tangga dan berlari menyelusuri kedua saudaraku yang sudah bangun
lebih dulu dan menyantap sarapan mereka di dapur. Mereka melihatku yang sedang
terburu-buru untuk membuka pintu rumah. sebelum aku membukanya, aku mengatur
nafasku. Lalu, membuka pintu dan memasang wajah gembira untuk membaca majalah
pagi ku.
“JOHNY!
RUSSEL!”, aku langsung membalikkan tubuhku, melangkah dengan langkah yang besar
sambil berkacak pinggang. Aku memasang wajah amarahku. Aku menghampiri kedua
saudaraku yang sedang makan di meja dapur. Mereka menatap kearahku dengan wajah
bingung.
“aku tidak menyembunyikannya,
mungkin dia” kata adikku, Russel dengan mulutnya yang penuh makanan. Aku
memandang Johny dengan tatapan yang sangar. Johny menghentikan makannya.
Sejujurnya aku paling benci dengan Johny. Dia pria remaja dengan kehidupan yang
liar dan selalu membawa temannya datang untuk latihan band di gudang belakang
rumah. aku benci dengan kehidupan nya itu.
“aku tidak melakukannya,”
jawabnya, ketus. Aku menggumam dan dia langsung beranjak dari kursi nya,
meninggalkan sarapan paginya.
“kalau bukan Russel yang
mengambilnya, itu pasti kau Johny!” bentakku. Dia membalikkan badannya.
Mendekatkan dirinya padaku,
“asal kau tahu Steffani, aku
tidak peduli lagi dengan majalah bodoh mu itu” dia menunjuki wajahku dengan
ucapannya itu. Itu membuatku kesal. Johny langsung meninggalkanku.
“that’s okey, jika aku tahu
bahwa kau yang benar-benar menyembunyikan majalahku, aku akan membakar satu set
drum-mu di gudang”
Aku naik menuju lantai dua. Aku
membuka pintu kamarku dan aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk
menyegarkan tubuhku. Setelah mandi aku langsung mengambil laptop-ku dan
berbaring di kasur sambil menghidupkan laptop-ku, aku menatap sekeliling
kamarku.
Tiba-tiba aku melihat ke arah
tumpukan majalah langgananku itu, aku melihat ada satu majalah yang belum aku
lihat sebelumnya. Aku beranjak dari kasurku dan menghampiri setumpukan
majalahku itu. Aku mengambil majalah yang belum aku baca sebelumnya itu.
Covernya pun bergambar Justin Bieber utuh dan di sisi pinggir majalah itu hanya
ada satu kalimat yang bertuliskan: follow
your dream and believe it. This is real. aku sungguh bingung. Awalnya aku
mengira bahwa ini adalah majalah baru Minggu ini tapi tak ada tercantum tanggal
edisi dan percetakan keberapa majalah ini.
Namun, apa mungkin aku pernah
meninggalkan majalah yang belum aku baca sebelumnya? Aku mengenal semua majalah
yang pernah aku baca tapi kali ini majalah ini benar-benar belum aku pernah
baca. Aku membuka lembaran pertama. Di sana ada beberapa iklan seperti majalah
biasanya, lalu aku membuka lembaran berikutnya, berikutnya, dan berikutnya
hingga aku menemukan bagian halaman yang di sana ada berita tentang Justin. You’re dream is REAL, itu adalah judul
dari bagian kolom berita Justin. Aku membaca isi beritanya, tapi saat aku
membacanya entah kenapa tulisan dalam majalah itu langsung berputar-putar
seperti ada pusaran air dalam majalah itu dan semua kalimat di majalah itu berputar-putar
menuju satu titik di tengah kolom berita you’re
dream is REAL ITU. Aku sangat bingung dan kaget. Aku menjatuhkan majalah
itu ke lantai. Anehnya, semua lembaran dalam majalah itu langsung
menggulung-gulung seperti ada angina kencang yang membuat setiap halaman itu
bergerak. Aku panik. Aku masih memperhatikan majalah itu dan kini majalah itu
menyedot semua barang-barang di sekitarku. Aku lantas berteriak namun tiba-tiba
tubuhku tersedot masuk ke dalam majalah itu. Aku sekeras-kerasnya berteriak dan
memanggil ibuku. Tapi ruangan kamar ini seperti teredam dan aku langsung masuk
ke dalam majalah itu. Aku lenyap.
***
Aku terjatuh ke sebuah sofa
lembut. Aku membuka kelopak mataku perlahan-lahan. Aku takut jika ini adalah
sebuah kenyataan, aku berharap aku baru saja bermimpi. Tapi, ketika aku membuka
mataku lebar-lebar, aku sedang tertidur di sebuah sofa yang sangat lembut di
dalam sebuah ruangan yang begitu lebar di penuhi banyak barang-barang
dimana-mana. Aku duduk. Aku memperbaiki rambutku yang tidak rapi. Aku memandang
sekelilingku, ada banyak cukup orang di sana. Semuanya tampak sangat sibuk. Ada
yang sedang berdandan dan push-up. Aku ada dimana?
“kau ada di sini ternyata, ayo
lekas naik ke atas panggung!” tiba-tiba seorang wanita dengan tubuh yang
langsing dan berambut panjang berwarna putih dengan pakaian seperti seorang
anggota dance menghampiriku. Dia
menarikku dan membawaku bersama salah satu teman wanita lainnya. Kini kedua
wanita itu memegang tanganku masing-masing. Mereka menuntunku berjalan ke
sebuah pintu terbuka luas. Saat mereka membawaku memasuki pintu itu, cahaya
silau menghalau penglihatanku.
I can fix up your broken heart
I can give you a brand new start
I can make you believe,
I just wanna set one girl free to fall (free to fall)
She's free to fall (fall in love)
With me
My hearts locked and nowhere to get the key
I'l take her and leave this world
With one less lonely girl….
Aku mendengar suara teriakan dan
suara kehebohan di sekeliling di hadapanku. aku berdiri d sebuah atas panggung
yang sangat luas. Kedua wanita itu melepaskan pegangan tangannya dan aku
berdiri sendiri. Namun ketika aku mendengar sebuah alunan lagu yang aku sangat
kenal itu, aku menoleh ke sekitarku. Betapa terkejutnya aku saat seorang pria
datang menghampiriku dan memegang tanganku dan membawaku duduk di sebuah kursi
di atas panggung. Pria itu lalu memberikan aku sebuah bunga dan memakaikanku
sebuah lingkaran bunga seperti mahkota di atas kepalaku. Lalu, pria itu
berjalan di hadapanku bersama para pria lainnya.
There's gonna be one less lonely
girl
One less lonely girl
There's gonna be one less lonely
girl
One less lonely girl
One less lonely girl
One less lonely girl
One less lonely girl
There's gonna be one less lonely
girl
I'm gonna put you first
I'll show you what your worth
If you let me inside your world
Justin Bieber? Ya Tuhan, aku
sedang duduk di sebuah kursi memeluk seikat penuh bunga dan memakai sebuah
mahkota bunga yang menghiasi kepalaku. Aku menatap sekelilingku. Begitu ramai
memadati sekeliling panggung besar ini. Aku melihat pria yang memberikanku
bunga ini sedang melanjutkan nyanyinya di hadapanku. Justin Bieber. Justin
mendekatiku dan ia menyentuh wajahku dengan lembut. Aku memandang wajahnya
sangat dekat. Aku benar-benar merasa seperti seorang wanita yang beruntung
menjadi One Less Lonely Girl di sebuah konser Justin Bieber. Kemudian, Justin
membelai rambutku dengan lembut dan ia langsung memelukku begitu erat. Aku
langsung membalas pelukannya. Setelah lagu itu selesai Justin menggandeng
tanganku dan kami berjalan berdua menuju pintu dimana tadi aku menuju panggung
ini. Dia membawaku ke belakang panggung.
Di belakang panggung, Justin
kembali memelukku. Aku sungguh tidak menyangka bahwa aku sekarang sedang
bersama idolaku. Tapi entah mengapa aku tidak histeris dan berteriak sangat
kaget. Malah aku merasakan semua ini dengan polosnya.
“hai shawty, siapa namamu?”
Tanya Justin kepadaku.
“Steffani Mulqueen” jawabku.
Tiba-tiba mataku begitu hangat. aku meneteskan air mata dari kelopak mataku.
Justin langsung kembali memelukku dan beberapa orang di sekelilingku langsung
mengambil gambar kami. banyak cahaya blitz yang membuatku pusing.
“see you later shawty!” ucap
Justin, dia kemudian berlalu dariku dan kembali menuju panggung. Aku masih
menatap kepergian Justin. Tuhan, benarkah aku baru saja menjadi seorang One
Less Lonely Girl di atas panggung bersama Justin?
“gadis, kau bisa kembali ke
tempatmu” kata seorang pria. Aku mengenal pria ini. Dia adalah Ryan Good. Dia
menghampiriku dan menuntunku keluar dari balik panggung. Namun hendak aku
berjalan keluar dari belakang panggung ini, aku menghentikan langkahku dan
bertanya padanya.
“tapi aku tidak berasal dari
sini” ucapku, aku memasang wajah sedih karena aku benar-benar bingung.
Ryan menaikan salah satu alisnya
dan memandangku dengan bingung, “lalu, kau berasal darimana?”
“saya dari Kanada dan saya tadi
tidak ada di sini” jawabku.
“oh ya? Lalu bagaimana kamu bisa
di sini jika kamu tidak tahu?”
“aku tadi berada di dalam
kamarku dan-dan-dan….”
Tiba-tiba aku terjatuh terkulai
lemas di lantai. Kepalaku sangat berat dan aku tidak bisa bangun. Ryan
mengguncangkan bahuku agar aku sadar namun aku tidak dapat bangun dan sadar.
Ryan membopongku kembali masuk ke dalam ruangan di balik panggung itu. Aku
dibaringkan di atas sofa lembut yang tadi aku kenali. Di sana beberapa wanita
menghampiriku dan memeriksa kondisi tubuhku. Tapi, sayangnya aku tidak bisa
sadar.
***
“kami tidak bisa meninggalkannya
begitu saja. Ini menjadi tanggung jawab kita”,
“tapi bagaimana dengan konser
Justin selanjutnya?”
“dia bisa pergi tanpaku”
“baiklah”
Aku berbaring di atas sebuah
kasur yang keras dan dibaluti selimut yang tipis. Aku memandang ke sekitarku
semuanya berwarna putih dan berbau obat-obatan. Apakah aku sedang berada di
surga? Aku duduk di atas kasur ini lalu seseorang membuka pintu yang ada di
hadapanku. ia mendekatiku.
“kau Steffani Mulqueen, kau akan
ditemani Scrappy selama orang tua mu akan datang menjemputmu” kata wanita itu.
Aku hanya mengangguk. Lalu orang yang disebut Scrappy itu masuk ke dalam
ruangan ini.
“bagaimana bisa kalian menghubungi
orang tua saya?” tanyaku.
“kami membaca di kartu
identitasmu” jawab wanita itu, lalu ia keluar dari ruangan ini. Scrappy
menghampiriku dan ia duduk di sebelahku berbaring. Dia menyantap sepotong
rotinya. Aku hanya memandangnya bingung.
“dimana, kah, ini?” tanyaku
kepada Scrappy.
“ini di rumah sakit London”
“London? Inggris?”
“tentu”
Aku langsung terduduk di atas
kasurku dan menatap wajah pria dewasa itu dengan sangat terkejut. “kau bercanda
aku berada di London? Aku dari Kanada dan aku tadi berada di kamarku”
Scrappy terkejut. Aku
mngguncangkan bahunya. Dia panik dan bergegas langsung lari meninggalkanku dan
ia berteriak memanggil dokter. Aku sungguh bingung. Aku masih terdiam di atas
kasur. Aku memandang ke langit-langit ruangan ini. Di sana ada sebuah tulisan
di langit-langit kamar. Aku membaca tulisan coretan tangan itu. Tiba-tiba ada
sebuah majalah terjatuh dari atasnya dan menimpa wajahku. Aku mengambil majalah
itu. Ketika aku melihat cover nya ternyata sama seperti majalah yang aku temui
di kamarku. Belum sempat aku membuka lembarannya tiba-tiba seperti ada angina
kencang menghamburkan majalah itu. Lalu seperti penghisap debu, majalah itu
menyedotku masuk ke dalam majalah tersebut. Aku menghilang dari ruangan itu.
***
Tanganku sangat kram. Aku
berbaring di atas lantai kamarku. Tanganku yang kram memegang majalah aneh itu.
Aku segera duduk dan memandang majalah aneh yang sudah membuatku pergi jauh
dari rumah. aku langsung melempar majalah itu ke bawah kolong kasurku. Aku
berdiri. Tapi tiba-tiba tanganku yang sangat kram itu menjadi sangat parah dan
kaku. Aku langsung keluar kamar untuk meminta bantun Johny mengatasi tanganku
ini.
Ketika aku menuruni tangga aku
menemui ibu bersama ayahku memasuki rumah dengan sangat khawatir. Mereka habis
tergesa-gesa dan ketika mereka menatap kearahku, mereka sangat terkejut
melihatku di hadapannya.
“Steffani, kau mengerjai ibu
mu?” Tanya ayah kepadaku. aku membelalakan kedua bola mataku karena aku tidak
mengerti maksud pembicaraan mereka.
“kau menghubungi seseorang dan
menyuruh ibu untuk pergi ke rumah sakit London? Kau benar-benar membuat ibu
khawatir dan sangat bingung” lanjut ayah.
Ya ampun, apa benar crue Justin
Bieber itu benar-benar menghubungi ayah dan ibuku. Jadi, sejak tadi saat aku
berada di atas panggung menjadi One Less Lonely Girl dan dipeluk oleh Justin
Bieber itu sungguh nyata? bukan mimpi?
“ibu, ayah, tanganku terluka”
aku menghentikan pembicaraan ayah dan ibu yang meneruskan perdebatan mereka
karena ayah menyebutku sudah gila terhadap idolaku. Tapi ibu membelaku. Ia
menghampiriku dan membawaku ke ruang tengah untuk mengobati tanganku. Ayah
masih terus mendumel mengata-ngataiku bahwa aku sudah terlewat batas untuk
mengidolakan seseorang.
Malam ini aku tidak bisa tidur.
Aku masih memikirkan majalah aneh itu. Bagaimana bisa majalah itu membawaku
jauh ke London dan mempertemukan aku dengan Justin Bieber. Dan itu adalah
kenyataan. Aku mengambil laptop-ku. Seharian ini aku belum ada membuka Facebook
ku. Saat aku membuka facebook-ku, aku melihat di beranda ada banyak dari teman
di facebookku yang mengupload sebuah gambar yang menggambarkan aku sedang duduk
dan dipeluk oleh Justin Bieber. Keterangan foto tersebut adalah ini adalah gadis yang menjadi one less
lonely girl saat konser Justin di London. Aku tidak habis fikir
membayangkan semua yang terjadi padaku dalam dunia di majalah itu ketika aku
berada di konser Justin. Justin memelukku dan aku menjadi one less lonely girl.
Pagi ini aku bergegas ke
sekolah. aku mengucir rambutku dengan rapi. Ketika aku hendak mengambil tasku
tiba-tiba majalah aneh itu muncul di atas meja di samping aku meletakan tasku.
Padahal kemarin baru saja aku membuang majalah itu ke bawah kasurku. aku
membuka lembaran itu dengan hati-hati.
Saat aku membuka halaman kolom
memberitakan Justin Bieber, di sana beritanya adalah Justin Bieber dekat dengan
wanita yang menjadi OLLG di London. Aku membaca beritanya. Namun, belum selesai
majalah itu kembali memunculkan angina ribut dan aku kembali tersedot dalam
majalah itu.
***
Justin Bieber sedang duduk di
balcon kamarnya sambil memainkan gitarnya. Dia menikmati pagi nya dengan wajah
yang sedih. Dia memainkan lau nya dengan sangat pelan. Tiba-tiba seseorang
terjatuh di hadapannya membuat Justin Bieber sangat kaget dan menjatuhkan gitarnya.
Orang yang terjatuh di hadapannya itu langsung gelagapan memperbaiki pakaiannya
dan rambutnya yang acak-acakkan. Itu adalah aku.
“kau datang darimana?” Tanya
Justin dengan wajah panic nya.
“maaf Justin maaf, aku juga
tidak tahu aku bisa ada di sini” aku langsung berjalan meninggalkannya dan
masuk ke dalam kamarny berusaha kabur dari Justin.
“hey tunggu sebentar, bukannya
kamu Steffani yang menjadi OLLG di konserku kemarin?”
“i-i-iya” jawabku.
“kau sudah sembuh? Kudengar
kemarin kau d rawat di rumah sakit lalu Scrappy mengawasimu dan saat ia kembali
dia tak menemukanmu di sana. Kau kabur?” Tanya Justin, mendekatiku.
Aku snagat bingung harus
menjawab apa kepada Justin.
“kau membuatku sangat khawatir
karena aku tidak mau ada belieber yang terluka” lanjut Justin.
“justin aku sangat
mengidolakanmu” kataku. Aku langsung tersadar benar-benar saat aku sungguh
berada di hadapan Justin. Aku memeluknya sangat erat. Dia membalas pelukanku
dan ia mengajakku duduk di balcon kamarnya dan ia menyanyikan lagu untukku.
Justin memintaku untuk tidak
pulang dari hotelnya karena dia sangat kesepian berada di kamarnya sendirian.
Menurutnya dia ingin ada belieber yang selalu ada di sampingnya. Ia
menginginkan hal itu tapi Scooter melarang Justin karena takutnya para belieber
yang lain akan mengancam Justin karena mereka merasa tidak terpilih menjadi
teman dekat Justin. Itu hanya sebuah resiko tapi Justin selalu menganggap
beliebers adalah keluarga.
“tapi aku senang jika ada kau
bersamaku. Kau mau kan menemaniku selama aku pergi tour?”
“selama aku bisa” jawabku.
“kau berasal darimana, shawty?”
“a-a-a-aku dari Kanada, Justin”
Justin terkejut. Dia memasang
wajah seakan mengatakan, kau yakin?
Sekarang kau sedang berada di Spanyol. Kami bertatapan sangat lama. Kami
berdua sama-sama tidak tahu harus berbicara apa. Namun tiba-tiba pintu kamar
ini ada seseorang yang mengetuknya dan itu membuyarkan pandangan kami berdua.
Justin langsung beranjak dari kursinya dan menuju pintu kamar ini, dia
membukakan pintu. Ternyata Scooter di sana.
“kau siap untuk konser
sekarang?”
“I’m everything ready show for
my beliebers”
“kalau begitu segera ke loby. Di
sana semua menunggumu”
“baiklah”, Justin hendak menutup
pintu tapi Scooter membuka pintu nya dan ia menunjukiku yang sedang duduk di
balcon dengan wajah polos. Belum Scooter menanyakan apa yang ingin tanyakan
kepada Justin, Justin langsung menjawabnya.
“dia gadisku”
Scooter lantas terkejut dan ia
langsung mengangguk. Secepatnya Justin menutup pintu dan meninggalkan Scooter
di luar sana. Justin berjalan ke arahku, aku segera berdiri.
“shawty, kau mau ikut denganku
konserkan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa aku begitu terhipnotis
dengan Justin karena tatapannya yang memandang mata ku begitu lembut dan aku
meninggalkan sekolah hari ini. Justin mengambil sebuah kaos berwarna
ungu-abu-abu polos dan memberikannya kepadaku. ia menyuruhku untuk memakai kaos
itu. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar Justin itu. Di dalam
kamar mandi itu aku sangat tidak yakin dengan apa yang aku dapati pagi ini. Aku
menjadi Belieber yang bisa selalu berada di sisi Justin? Justin Bieber !
idolaku.
Aku melepas pakaianku dan hendak
memakai kaos pemberian Justin itu. Saat aku memakainya aku membaca sebuah
kertas yang tertempel di kamar mandi itu. Iseng-iseng aku membacanya, tentang
sebuah peraturan kamar mandi hotel. Tapi tiba-tiba entah mengapa ada angin
ribut yang muncul d sela-sela dinding kamar mandi dan muncul sebuah majalah.
Majalah aneh itu. Majalah itu terjatuh di hadapanku dan ia langsung membuka
lembaran-lembaran dengan cepat. Aku berteriak tapi kamar mandi ini seperti
hampa. Aku langsung tersedot ke dalam majalah aneh itu.
Sekitar lima belas menit, Justin
sudah menungguiku di balik pintu kamar mandi. Karena sangat lama ia
menungguiku, jadi ia mengetuk pintu kamar mandi. Tapi tidak ada respon dan ia
langsung menggedor pintu itu dan sama sekali tidak ada sahutan dari dalam kamar
mandi. Justin langsung membuka pintu kamar mandi untungnya pintu it tidak
terkunci dan saat ia membukanya tak ada orang di dalam kamar mandi itu. Ia
hanya menemukan pakaian yang terjatuh di lantai. Pakaianku tadi.
Aku terjatuh dari tangga rumahku
dan aku terguling jatuh menuruni tangga sampai ke lanta dasar. Badanku sangat
pegal dan begitu sakit. Kepalaku sangat pening dan pusing. Ibuku langsung
menghampiriku dan mencoba menyadarkanku. Ibu membawaku ke kamarku dan
membaringkanku di kasur. Dia membawakan secangkir the hangat dan perban
untukku. ia melilitkan perban di lengan kananku yang terluka.
“i-i-ibu, aku ada di kamar?”
tanyaku setelah ibu selesai memberi perban.
“iya, sayang. Kau kenapa bisa
terjatuh dari tangga? Kau masih mengantuk? Kau tidak ingin pergi sekolah,
sayang?” ibu balas bertanya, membelai rambutku. Aku hendak menceritakan semua
masalahku saat aku bertemu Justin sebenarnya. Tapi percuma, ibu pasti tidak
akan percaya padaku.
“Steffani?” ibu menyadaranku.
Aku langsung tersenyum.
“aku hanya kelelahan untuk hari
ini dan sepertinya lengan kananku patah”
“kau terlalu sibuk twitter dan
facebook-an, ya, larut malam? Sampai kamu kelalahan dan demam seperti ini.
Apalagi sekarang lenganmu patah, Steffani. Ayo kita ke rumah sakit”
“baiklah, bu”
***
Sepulang dari rumah sakit aku
mendapatkan lengan kananku di perban dengan perban berwarna hijau. Entah
mengapa aku mendapatkan perban warna ini. Ini membuatku seperti berlumut. Aku
menuju kamarku. Aku mencari-cari majalah aneh itu. Aku hendak akan membuangnya.
Sebenarnya aku juga senang bisa bertemu Justin karena majalah itu yang
membawaku. Tapi, entah mengapa majalah itu juga membawa sial kepadaku. kini aku
terhenyak di kasurku. aku fikir majalah itu bisa membawaku bertemu Justin
Bieber setelah aku membaca kolom berita tentangnya di dalam majalah itu. Lalu
aku dapat kembali ke rumahku karena aku membaca tulisan apapun di sana. Jadi,
intinya majalah ini membawakanku keberuntungan dapat bertemu Justin. Aku
mencari-cari majalah itu di kamarku tapi aku tidak menemukannya sekarang dan
mencari majalah itu sekarang membuat kepalaku pening dan lengan kananku gatal.
Jadi aku mengurungkan niatku mencari majalah aneh yang sekarang aku beri nama lucky magazine itu. Lebih baik aku tidur
dengan pakaian ungu-abu-abu pemberian Justin ini. Aku sangat bangga. Bangga
bisa bertemu Justin dan Justin membuatku begitu bahagia.
***
“kita bisa terlambat konser,
Justin” kata beberapa orang yang berada di loby di sana.
“tapi aku tidak akan pergi
sampai aku menemukan wanita yang bersamaku tadi di kamar”
Lalu semua yang ada di
sekeliling Justin, seluruh crew nya begitu kaget mendengar jawaban Justin.
Mereka mengira bahwa Justin sudah begitu nakal, membawa seorang wanita ikut
bersamanya konser dan dalam satu kamar. Justin mengerti semua pemikiran
orang-orang di sekelilingnya itu. Lalu dengan cepat ia membantah.
“dia hanya seorang Belieber dan
kami baru saja kenal sepuluh menit yang lalu”, Justin langsung mengambil
jaketnya dan meninggalkan semua nya di lobi dengan bingung mendengar Justin
barusan. Justin bergegas memasuki bus pribadi konsernya.
***
Malam ini aku ditemani beberapa
bintang yang terang bersama sebuah bulan yang membuatku tersenyum sendiri di
atas balcon kamarku sambil mendengarkan lagu dari Justin Bieber yang berjudul Can’t let Go. Dari tadi pagi aku tidak
mengganti pakaianku, aku masih memakai kaos pemberian Justin ini. Aku jadi
teringat kejadian tadi pagi. Aku sungguh tidak menyangka bahwa aku bisa bertmu
Justin yang kedua kalinya. Apalagi aku bertemun pertama kalinya saat aku
menjadi OLLG. Bagaimana aku tidak bangga saat aku memikirkan ini semua? Justin,
aku ingin bertemumu kembali.
Aku menuju ke dalam kamarku. Aku
kembali mencari majalah keberuntungan itu kini aku menemukannya di atas meja
belajarku. Aku tersenyum bahagia. Kemudian aku membuka lembaran bagian yang aku
cari. Di sana kolom itu terisi sebuah berita yang berjudul, Justin Bieber menangis saat menyanyikan lagu
Be Alright. Aku membaca berita tersebut dan seperti biasanya timbullah
angina ribut di sekitarku dan aku langsung masuk ke dalam majalah itu. Aku
sudah tidak sabar bertemu Justin kembali.
aku terduduk di sebuah bangku
taman di sebuah taman yang sangat luas. Awalnya aku begitu takut saat aku tiba
di sini karena di sini begitu gelap tapi saat aku memperhatikan sekitarku aku
berada di sebuah taman di belakang hotel dan aku menemukan seseorang sedang
duduk sendiri di sebuah bangku lainnya di dekat kolam air pancuran. Aku
berjalan mendekati orang itu, dia adalah Justin Bieber.
Aku duduk di sebelahnya. Dia
tidak tahu saat ada seorang wanita yang duduk di sampingnya. Tampaknya Justin
sedang melamun dan wajahnya sangat sedih. Lalu aku berdehem di sampingnya.
“malam, Justin Bieber” sapaku.
Aku memperhatikan wajahnya. Dia menoleh ke arahku. Dan sebuah senyuman manis
terpancar dari wajah Justin. Aku langsung membalas senyumannya. Dia seakan
berkata,kau datang juga akhirnya. Dia
memelukku tiba-tiba. Aku hendak membalas pelukannya namun lengan kananku
merintih sakit. Justin melepas pelukannya dan ia memegang lengan kananku yang
dibalut perban itu. Dia menanyaiku, mengapa
tanganmu, shawty?
“aku menjatuhkan diriku dari
tangga rumahku” kataku. Justin tertawa, dia mengacak-acak rambutku. Aku tertawa
bersamanya. Kami seperti sudah begitu akrab. Kemudian dia memperhatikan kaos
ku. Kaos pemberiannya.
“kau tadi pagi pulang? Tapi
mengapa sampai malam ini kau tidak mengganti pakaianmu?” Tanya Justin, belum
aku menjawab Justin kembali menanyaiku, “mengapa aku tidak menemuimu saat kau
mengganti pakaianmu di kamar mandi kamar hotelku?”
Aku bingung akan menjawab apa,
namun aku menjawab dengan bohong dan begitu santainya, “aku tadi sudah keluar
dari kamar mandi saat kau tidak mengetahuinya. Aku kabur dari kamarmu. Karena…
karena… aku lapar”, entah mengapa alasan akhir ku begitu bodoh untuk dicerna
dalam pembicaraanku. Justin tertawa kecil mendengar jawabanku. Dia kembali
mengacak-acak rambutku dan tersenyum manis. Aku hanya menundukan kepalaku.
“kalau kau lapar, aku bisa
membelikan apapun untukmu” ucap Justin, “kalau begitu kau mau, kan, menemaniku
makan di restoran sebrang sana?” Justin menunjuk sebuah restoran di pinggir
jaan d sebrang hotel ini. Aku ingin menjawab tidak tapi Justin langsung menarik
tanganku dan ia membawaku berlari menelusuri taman ini. Dia begitu bahagia saat
aku tiba di sampingnya. justin, apa kamu
kesepian? Aku berjanji akan membutuhkan majalah keberuntungan itu untuk terus
bersamamu. Dan jika ini memang mimpi aku berharap aku tidak akan terbangun dari
tidurku. Aku akan menjaga mimpi ini selamanya agar aku bisa terus bersamamu.
Di sebuah restoran itu, kami
memesan dua porsi makanan yang sama, soup ayam hangat dengan dua gelas juice.
Sejak tadi kami terus tertawa dan tersenyum bahagia. Justin begitu senang saat
aku tiba di sisinya. Saat aku hendak memakan makananku dengan lengan kananku,
aku merintih sakit. Justin langsung membantuku dan menghelus lengan kananku
dengan lembut. Justin begitu perhatian denganku. Lalu ia mengambil sesuap
makanan untukku. dia menyodorkan sesendok makanan itu ke bibirku, “ayo shawty
makanlah”, aku melahap makanan itu. Justin tersenyum. Lalu ia kembali memintaku
untuk memakan dengan suapan yang ia berikan. “tapi, Justin, kau belum
menghabiskan makananmu?” kataku. “selama kau belum menghabiskan makananmu, aku
takkan memakan” jawabnya. Aku kini
dengan beraninya aku mengacak-acak rambut Justin. Dia tertawa.
Malam itu aku bersama Justin
kembali ke hotel. Kami berdua dengan diam-diam kembali memasuki hotel tanpa ada
orang yang akan memperhatikan kami. karena Justin takut kalau ada orang yang
akan memberitakan yang tidak-tidak tentang diirinya jika melihat aku bersamanya.
Setibanya di dalam kamar hotel Justin, aku dan dia duduk di atas kasur tanpa
ada pembicaraan lebih lanjut. Kemudian Justin membatingkan tubuhnya. Dia
terlihat sangat kelelahan.
“aku akan mengambil masa
liburanku secepatnya” ungkap Justin dengan nada parau. Dia terlihat sedih.
“mengapa? Bukannya Believe Tour
belum berakhir?” tanyaku.
“tapi aku merindukan kampong
halamanku. Kanada”
“kita sama-sama berasal dari
Canada, Justin?”
Justin hanya tersenyum. “kau
takkan pergi lagi, kan, shawty?”
Aku menggeleng. Selama kau tak memaksaku untuk membaca
kalimat apapun, kataku dalam hati. Justin merekahkan senyumannya. Dia
membagi tempat tidurnya yang luas itu denganku. Aku membataskan guling hijau di
antara kami. kami berduapun tertidur lelap hingga pagi datang memaksakan kami
berdua bangun dari tidur kami. kutemui ketika aku terbangun Justin menggenggam
tangan kiriku saat ia masih terlelap tidur dan guling hijau itu sudah berada di
lantai.
Aku mencuci muka dan mencuci
rambutku. Justin sudah siap dengan gagah dan rapi di atas sofa. Dia tampaknya
sangat gembira saat menyambutku keluar dari kamar mandi. Aku merasa ada yang
salah dengan penampilanku. Aku memperhatikan diriku di depan cermin besar.
Justin berdiri di belakangku sambil menyengir. Aku bingung. Apa aku seperti alien dari planet Mars?
“kau sangat lucu” ucap Justin di
sela-sela tawanya. Justin merpihkan rambutku, dia menyisir rambutku yang
berantakan. “sebaiknya setelah mencuci rambut segera di keringkan. Kan, lucu,
ngeliat kamu seperti ini”
Aku hanya terpaku menatap
pantulan kami di depan cermin. Justin menyentuh rambutku dan menyisir dengan
pelan. Justin menyodorkan hairdryer
kepadaku. dia memintaku untuk mengeringkan rambutku. Aku menyetujui
permintaannya. Sembari menungguku Justin tampaknya sibuk dengan percakapannya
di telefon. Ada bentakan yang aku dengar di sela pembicaraan mereka. Entah
dengan siapa Justin berbicara itu, dengan bersamaan dia mengakhiri telefonnya
aku selesai mengeringkan rambutku dan Justin datang menghampiriku. “aku suka
penampilanmu” pujinya. Aku hanya tersipu malu ketika idolaku membisikkan
kalimat yang sangat aku sukai itu.
“pagi ini aku akan mengajakmu
jalan bersamaku” katanya, Justin menarik tanganku yang diperban. Aku mengeluh,
“huh justin!”
“tapi… sebentar Justin apa tidak
masalah? Bagaimana dengan manager-mu? Dia mengizinkanmu, Justin?”
“tentu iya, barusan aku
menghubunginya dan kita akan jalan dengan mobil miliknya”
Justin menarikku keluar dari
kamarnya. Aku hanya mengikuti langkahnya. Setibanya di depan mobil sport milik
Scooter, Justin membukakan pintu untukku. aku duduk di sampingnya menyetir.
Justin mengendarai mobil dengan pelan di jalan raya yang ramai lancar.
Sepanjang perjalanan kami hanya
saling diam, malu-malu untuk bertatapan dan kami hanya saling melirik
diam-diam. Sejujurnya aku ingin pulang ke rumah. aku takut di marahi ibuku
karena semalaman aku tidak ada di rumah. pasti ayah dan ibu sangat khawatir
mencariku.
Kami tiba di sebuah gedung
bertingkat yang sangat besar. Ada papan besar bertuliskan SPAIN MALL di depan
gedung itu. Aku fikir Justin akan mengajakku shopping membeli perlengkapan
camping-ku untuk kabur dari rumah, namun tebakanku salah, kami akan bermain di
zona permainan di Mall.
Kami memilih untuk bermain
basket dan berlomba diantara kami siapa yang mendapatkan score lebih banyak dan
tentu jelas Justin-lah yang menjadi pemenangnya. Lalu Justin mengajakku bermain
permainan lainnya. Hingga Justin memintaku untuk bertanding bermain mengendarai
motor-motoran di sana. aku awalnya tidak setuju karena aku malu, aku seorang
perempuan. Tapi karena Justin memaksa jadi aku menyetujuinya. Ketika aku
menaiki motor-motoran itu, tiba-tiba Justin langsung ikut duduk di belakangku
dan kami berdua duduk sangat berdempetan dan sempit di atas motoran itu.
Jantungku berpacu sangat cepat dan tubuhku mulai dingin. Saat Justin menyentuh
kakiku dengan lembut, dia mengangkat kakiku untuk di pijakkan di sebelah
kakinya. Ada rasa senang dan takut ketika Justin duduk tepat di belakangku dan
dia mendekatkan tubuhnya ke punggungku. Justin menyentuh kedua tanganku agar
mengiringku untuk memainkan motor-motoran ini. Ketika permainan dimulai, dia
berseru di belakangku.
Semua orang tertuju pada kami,
memperhatikan kami dengan fikiran mereka yang berbeda-beda. Saat games pertama
berakhir, Justin memasukan kembali koin dan kami bermain sebanyak hampir empat
kali dan itu membuatku meleleh bersamanya.
Selesai bermain Justin menarikku
menuju pakaian yang di sana terdapat banyak pakaian couple. Justin terus menarikku dengan penuh semangat namun tungkai
kakiku rasanya patah dan Justin malah terus mengajakku berjalan. Justin memilih
kaos berwarna ungu couple. Kembar. Hanya berbeda tulisan. Tulisannya hanya merk
kaos saja dan tak berarti apa-apa. Setelah membayarnya Justin menyuruhku untuk
memakai kaos itu, begitu juga dengan Justin. Kami memakai pakaian yang sama.
Jam 6 PM. Sejak tadi pagi sampai
sore ini kami menghabiskan waktu bersama-sama keliling kota. Aku dan Justin
tampak sangat akrab. Sangat akrab. Meski kami berdua tahu banyak paparazzi yang
memotret kebersamaan kami seharian ini. Tapi Justin sangat cuek dan dia
menikmati kebersamaannya bersamaku.
Setelah nonton di bioskop kami
akan pulang kembali ke hotel. Di dalam mobil sepanjang perjalanan kami hanya
bicara seadanya dan tidak begitu seheboh kami berada di luar mobil, karena
menurutku di dalam mobil itu sunyi dan sangat menikmati kebersamaan berdua.
Apalagi mobil sport, hanya khusus untuk dua penumpang termasuk yang menyetir.
“besok aku akan konser di Las
Vegas,” kata justin, memecahkan kesunyian diantara kami. “kau janji ya akan
ikut bersamaku selama aku tour?” Tanya Justin dengan nada rendah. Dia menatapku
sekilas dengan wajah sedihnya. Aku mengangguk dengan yakin, aku memegang telapak
tangan Justin yang memegang porseneling. Tak terasa Justin membalas genggaman
tanganku. Hingga tiba di hotel aku tidak sadar bahwa kami sejak tadi masih
berpegangan tangan.
Malam itu Justin mengajakku
untuk makan malam di hotel. Tapi aku jelas menolak ajakannya meski ia
memohon-mohon. Itu aku lakukan karena aku sangat malu jia bergabung dengan
crew-nya. Aku mengaku, aku hanya seorang fans, lebih dari fans, aku BELIEBER
tapi aku tidak punya hak bisa terus bersama Justin tentu ini akan menjadi
kontorvesi di kalangan banyak orang. Aku tidak mau berebihan bersama Justin
tapi tentunya diumurku yang 17 tahun tentu bisa merasakan cinta. Cinta terhadap
idola. Cinta perasaan kepada Justin Drew Bieber. Seharian ini sudah membuatku
cukup bahagia. Seharian ini. Bagaimana dengan beberapa bulan ke depan karena
Justin memintaku untuk terus bersamanya, seharian ini akan menjadi sangat
lebihi jika sebulan akan terus bersamanya dan kontorvesi antara belieber akan
membuat penilaian terhadap diriku. Aku tidak mau menjadi pemecah hubungan
antara Justin Bieber dengan Beliebers lainnya. Aku, aku hanya Belieber.
“kalau kau tidak mau makan malam
bersamaku, kau janji akan terus di sini sampai aku kembali, kau berjanji
shawty?”, Justin menyodorkan jari kelingkingnya. aku mengaitkan jari
kelingkingku. Kami jabat salam perjanjian. Justin tersenyum kemudian dia
mengacak-acak rambutku lalu kabur sambil tertawa meninggalkan kamar ini
bersamaku. Aku hanya tertawa melihat kepergiannya.
Saat aku sendirian, kini aku
tersadar bahwa aku sudah meninggalkan rumah lebih dari 24 jam dan itu tentu
membuat kedua orang tua ku khawatir. Aku harus balik pulang. aku mencari
majalah apapun yang akan aku baca. Tapi sebelum berniat akan segera pulang aku
mencari secarik kertas dan menulis sebuah pesan yang akan kutinggalkan untuk
Justin. Selama aku menulis aku tidak akan membaca pesanku sendiri. Setelah
selesai dan yakin bahwa tidak ada kata yang salah, aku letakkan di atas kasur.
Lalu aku mencari majalah dan tidak menemukannya. Karena aku takut kelamaan dan
Justin akan datang maka aku membaca pesanku sendiri. Seperti biasanya,
tiba-tiba majalah keberuntungan itu hadir dan membawaku kembali ke rumah.
***
“kuharap Steffani sakit atau dia
tertidur pulas dua hari belakangan ini” kata seseorang yang berjalan mendekati
kamarku. Itu suara kakak ku, Johny. Dia mengendap-endap menaiki lantai atas
menuju kamarku. Buru-buru aku langsung menuju kasurku, membalut tubuhku dengan
selimut meletakkan tanganku yang diperban di luar selimut agar Johny akan jelas
melihatnya.
Tebakanku benar, johny memasuki
kamarku. johny menatap ke atas kasur dan menemukanku tertidur membelakanginya.
Dia menggumam bahagia, “syukurlah”. Karena penasaran apa aku benar-benar tidak
sadar ketika johny ada di kamarku, dia melangkah pelan mendenkatiku tapi
kakinya menginjak sebuah majalah keberuntunganku, Johny merasa terperanjat
karena ia tahu jika aku mengetahuinya telah merusak majalahku, tentu aku akan
membakar satu set drumnya serta mengempiskan roda ban mobilnya. Johny mengambil
majalahku itu dan ia menemukan covernya telah lenyek dan berbekas jelas jelek
sepatu kotor milik Johny. Karena takut, Johny lalu memungut majalah itu dan
bergegas keluar dari kamarku. tapi, aku tidak tahu apa yang barusan Johny
lakukan. Ketika aku membalikkan tubuhku aku tidak menemukan majalah
keburuntunganku dan mendapatkan jejak kaki sepatu kotor berhenti di tempat
majalah keberuntunganku tadi terakhir aku letakan.
***
Dua bulan berlalu….
Banyak kejadian yang aku alami
belakangan terakhir bulan ini. Aku stress berat dan mengurung diriku di dalam
kamar selama seminggu penuh. Menyelidiki siapa yang mengambil majalahku dan aku
mengetahuinya bahwa Johny yang melakukan itu bahkan ia membuang majalah
keburuntunganku itu di tempat sampah dan aku tidak bisa menemukan jalan ke
tempat aku bisa bertemu dengan Justin. Tent u aku langsung membakar satu set
drumnya dan membocorkan keempat ban mobilnya, menghancurkan jendela mobilnya
juga merobek semua buku koleksi band-nya. Itulah yang membuat stress berat
bahkan liburan musim panas kali ini aku hanya mengurung diriku di rumah
tepatnya di dalam kamar dan berharap musim panas akan panjang membuatku
melupakan semua kenanganku bersama Justin Drew Bieber. Bahkan aku
menyembunyikan dua kaos pemberian Justin di dalam lemariku dan aku takkan mau
mengambil dan memakai kaos itu lagi.
Semua ini gara-gara Johny. Johny
membuatku tidak bisa bertemu lagi dengan Justin Drew Bieber. Ayah dan Ibu tentu
tidak akan mengizinkanku jika Justin akan konser di Canada. Tapi aku berat
untuk menghapus semua foto yang ada di ponselku sejak aku foto-foto bersama
Justin dan semuanya tidak ada yang aku tinggalkan untuk di print dan dipajang
di dinding meski aku berusaha untuk melupakannya. Itu begitu sulit.
Aku juga jarang untuk
mengaktifkan laptopku untuk Facebook atau Twitter. Aku sempat buka Twitter dan
menemukan bahwa Justin menulis di twitter nya: aku kehilangan seorang wanita (belieber) dan terakhir dua tulisan
yang aku temukan di twitter Justin adalah: aku
memakai kaos kembaran yang aku beli bersamanya, aku merindukanmu shawty
juga: sampai sekarang suratmu malam itu
masih aku simpan. Aku fikir Justin sangat berlebihan dan baru kali ini aku
membaca tulisan Justin di twitter berlebihan seperti itu. Semua media banyak
memberitakan Justin yang kini mulai hilang dari media dan menggagalkan beberapa
undangan konser di berbagai daerah. Justin kini sedang berlibur di suatu daerah
dan Justin tidak memberitahu kepada media manapun dia sedang berada dimana. Dia
sedang berlibur bersama keluarga dan sahabatnya.
Beberapa minggu itu aku
melewatkan majalah-majalah langgananku yang tertumpuk di depan teras. Ibu sudah
memungutnya dan meletakkannya di rak kamarku tapi aku tidak ada satupun yang
aku baca padahal semua covernya Justin Drew Bieber dan berita penting mingguan
itu adalah JUSTIN DREW BIEBER KEHILANGAN BELIEBER WANITA YANG IA RINDUKAN.
Astaga, sekepo itukah para wartawan?
Setahu aku Justin sangat bisa menyimpan rahasianya walau dia hanya benar-benar
menulis yang menjadi misterius di twitternya. Tapi, stress berat ini membuat
tangan kananku yang patah menjadi pulih kembali.
Musim panas akan berakhir, aku
mendapat tugas untuk menceritakan pengalaman akhir musim panas di depan kelas
nantinya. Tapi, apa yang akan aku ceritakan? Menderita stress berat selama sebulan di dalam kamar?
Ini adalah hari Sabtu tapi aku
mendapatkan majalah baru di depan teras rumah. yang benar saja, apa
pengantarnya begitu bersemangat mengantar majalah di hari sabtu? Aku membaca
majalah baru itu sambil berjalan menuju lantai atas kamarku tapi tiba-tiba aku
terjatuh ke lantai dan semuanya menjadi gelap.
***
Samar-samar aku memandang
sekitarku. Aku mendapatkan diriku di sebuah ruangan serba putih. Apa aku berada di surga? Aku menemukan ibu dan ayahku yang ada di
samping kananku serta Johny dan Russel yang berdiri di samping kiriku, mereka
mencercahkan senyuman mereka saat aku mulai membuka mataku dan berkata, “justin bieber”
“sayang, maafkan ibu karena
meninggalkanmu dua hari di dua bulan lalu saat tanganmu patah itu, sayang, ibu
dan ayah serta Russel pergi ke rumah nenek dan tidak membawamu. Jadi, ibu
menitipkanmu bersama Johny, tapi, Johny malah berpesta bersama teman-temannya
di rumah. ibu sangat kecewa dengan sikap bodoh ibu itu. Itu adalah tanggung
jawab yang besar bagi ibu meninggalkanmu bersama Johny” jelas ibu, ada air mata
yang mengalir dari kedua kelopak mata ibu yang hangat, “selama Steffani
terus-terusan di kamar, ibu sangat sedih karena ibu terlalu mengancam steffani
untuk tidak terus-terusan mengidolakan justin. Ibu janji, ibu akan membelikan
tiket konser untukmu VIV di konser justin Bieber di Canada nanti” air mata itu
membuat mata ibu merah dan dengan keadaanku yang lemah aku mengelap ar mata itu
dengan jemariku. Ibu menggenggam tanganku dengan erat.
Johny berdeham, “aku membencimu Steffani,
sangat membencimu karena telah menghancurkan semua barang pribadiku yang sangat
aku sayangi… tapi itu semua memang kesalahanku. Aku yang membuang majalahmu dan
aku berjanji tidak akan menjadi kakak yang nakal dan jahat lagi terhadapmu”
jelasnya, johny mengacak-acak rambutku. Kami semua tertawa kecil di tengah
kelemahanku aku menggenggam tangan ibuku dengan erat.
“ada apa sayang?” Tanya ibu, aku
menggeleng pelan, “menurut dokter tadi Steffani sudah sembuh, kok,”
Tiba-tiba ayah mendapatkan
panggilan di telefon dan orang ditelefon itu meminta ayah untuk kembali
bekerja. Jadi, keluargaku meninggalkanku sendiri di dalam ruangan di rumah
sakit ini. Setelah mereka pergi aku mengambil majalah yang ada di atas meja.
Majalah edisi hari sabtu yang aku temukan pagi tadi. aku membaca majalah bagian
justin Bieber dan tiba-tiba mataku sayup-sayup. Lalu aku tidak merasakan
apa-apa. Semuanya gelap.
“shawty, shawty, shawty….”
Telingaku mendengung. Terdengar
suara nafas seseorang yang berada di sampingku. Dengan berat aku membuka
kelopak mataku dan kudapatkan seorang pria dengan wajah cemasnya berdiri sambil
memegang bahuku. “justin Bieber?”
Justin, pria itu adalah justin.
Aku memperhatikan sekelilingku.
Apa aku berada di dunia nyata? Atau sekedar mimpi? Atau aku telah berada
benar-benar bersama Justin Bieber setelah aku membaca majalah edisi sabtu itu?
“aku sangat merindukanmu shawty”
kata Justin, dia menggenggam tanganku, “bagaimana dengan keadaanmu?”
Bukannya aku menjawab, aku hanya
diam memandang wajahnya. Aku mencari ibuku atau ayahku atau siapa sajalah yang
ada di sini agar aku percaya bahwa aku sedang tidak bersama Justin Bieber.
“shawty?” , Justin
mengguncangkan bahuku, pelan. Aku memgangi kepalaku yang pening, dibebani
banyak pertanyaan yang membenak. Aku tidak ingin berada di dunia nyata dan
bertemu justin, lagi, karena majalah itu. Aku ingin menjadi Belieber yang
mendapatkan keberuntungan dengan nyata.
Seketika justin lalu memelukku
dengan erat. Aku mendengar suara hembusan nafasnya yang aku tahu nafas itu
adalah sesak yang sedih.
Seorang suster memasuki ruangan
dengan membawa keranjang jalan penuh banyak makanan. Suster itu memberikan
jatah makananku kepada justin dan meminta justin untuk memberikan makanan itu
kepadaku. sepeninggalan suster itu justin langsung mengembangkan senyuman di
bibirnya. Ia menyuapiku makanan, awalnya aku dengan tegas menolak tapi justin
memasang raut wajah sedih dan itu membuatku tidak tega melihatnya dengan wajah
seperti itu. Aku tertawa dan justin ikut tertawa bersamaku ketika justin
menceritakan hal lucu yang ia lakukan selama aku hilang darinya, dua bulan.
Pagi itu di rumah sakit sangat
ramai. Banyak anak kecil dengan tubuh pucat yang dikujuri rasa sakit duduk
bersama kedua orang tuanya di ruang tunggu. Aku meminta justin mengantarku
menju taman di dekat air pancur, taman ini berada tepat di tengah rumah sakit.
Banyak anak kecil yang berkeliaran di sana, anak-anak kecil itu sedang mengidap
penyakit yang harus membuatnya menginap di rumah sakit ini. Aku duduk bersama
justin tepat di depan pancuran air. Tak kusadari justin menggenggam erat
telapak tanganku dan aku membalas genggaman tangannya. Kami berdua hanya saling
diam. Hingga ketika ada seorang anak perempuan kecil yang rambutnya banyak
dipetak dikarenakan operasi di kepalanya. Anak kecil ini memngidap penyakit
kanker , dia sedang berjalan dengan kursi roda mininya di hadapan kami, aku
lantas mendekati anak perempuan itu.
“hai, manis” sapaku. Anak
perempuan itu terkejut, kemudian melontarkan senyuman manis di bibirnya. “aku
mengenalmu,” kataku. Yup, aku memang mengenalnya, dia pernah dberitakan di
Koran pagi karena mengidap penyakit kanker di usia dini.
Dia hanya memurungkan wajahnya
menyembunyikan luka sedih di hatinya. Aku merogoh saku celanku dan menemukan
sekantung wafer yangkuberikan untuk anak itu. Dia tersenyum dan aku menyelipkan
bunga berwarna merah di sela telinganya. Anak itu tampak cantik. Justin yang
tadnya bengong langsung ikut menghampiriku. Sementara aku banyak berbicara
dengan ank kecil itu, justin malah sibuk memperhatikan wajahku dengan tatapan
wajah romantisnya. Sesaat suster membawa anak perempuan itu pergi dari kami.
“aku tidak mengerti bahwa
ternyata kamu memang sebaik itu kepada orang lain” kata justin.
“huh, aku memang baik tahu!” aku
mengepalkan tanganku dan meninju lengannya. Justin menghelus-helus lengannya
dan bukannya mengeluh sakit, ia malah tertawa dan berkata, “kamu cantik juga
saat sedang cemberut”
Aku ge-er saat justin berkata seperti itu. Tapi aku langsung memasang
wajah marahku dan meninggalkannya pergi. Dia mengerjarku dan aku memeprcepat
langkahku pergi meninggalkannya. Sembari kami berkejar-kejaran dan tertawa, aku
mulai menyisihkan rasa sakitku dan aku fikir aku ingin segera pulang.
Jam 12 siang ibu datang
menjemputku untuk pulang dari rumah sakit. Menurut dokter luka di kepalaku
sudah sembuh dan ibu membawaku pulang kembali ke rumah. sebelum ibu datang aku
memang tertidur pulas karena lelah habis berkejar-kejaran dengan justin. Tapi
sebelum akupun tertidur justin menyanyikanku lagu Never Let You Go dan akhirnya aku tertidur hingga terbangun aku
tidak menemukan justin.
Kamarku tampak sangat rapi
setelah aku pulang dari rumah sakit. Ibu membuatkan secangkir coklat panas
untukku dan aku menikmatinya di balcon kamarku. aku memakai kaos couple yang
justin belikan untukku. sebenarnya aku sudah berjanji tidak akan memakai baju
ini lagi, tapi entah mengapa sesuatu membisikkanku dan memintaku agar memakainya.
“Steffani, ibu pergi dulu! Jaga
rumah baik-baik!!!” teriak ibu dari lantai bawah. Astaga, baru pulang dari
rumah sakit ibu sudah harus meninggalkanku pergi? Jadi, hari ini aku
benar-benar sendirian lagi di rumah. aku sangat bosan. Aku mencari hiburan
lainnya dan aku kembali membaca majalah-majalah yang tertumpuk. Aku hanya cukup
membaca bagian kolom berita justin dan hingga akhirnya aku kelelahan membaca
dan ingin mencerahkan bola mataku dari sederatan kata untuk keluar rumah.
ketika aku berada di luar rumah,
berdiri di halaman depan aku melihat sebuah mobil sport yang aku kenal memasuki
garasi rumahku. Aku bengong. Tapi seketika seseorang turun dari mobil dan
berteriak, “aku kembali untukmu”, itu justin. Ya tuhan, aku membaca banyak
majalah di kamar tadi, aku tidak berniat memanggil idolaku datang kemari.
Tuhan, tolong jangan kacaukan aku lagi. Aku ingin bertemu idolaku dengan usaha
kerasku sendiri, bukan karena panggilan majalah aneh. Aku janji, setumpuk
majalahku akan aku bakar setelah justin lenyap dari hadapanku yang seraya
menarik tanganku ini.
Justin membawaku jalan keliling
kota kecilku. Dia takjub dengan perubahan yang terjadi dengan kota nya ini
juga. Sebanyak apapun justin berbicara dan menanyaiku sejak tadi, aku hanya
diam, diam dan diam. “aku senang punya Belieber seperti kamu,” ucapnya. Dan itu
adalah ucapan yang sudah ia lontarkan berkali-kali padaku sepanjang jalan.
Sampai akhirnya aku bosan dengan sikap idolaku ini aku membentaknya dengan
penuh emosi, “turunkan aku di sini!”
Justin lantas menghentikan
mobilnya seketika, tidak peduli suara klakson kendaraan yang berada di belakang
mobilnya. Justin menatapku dengan kecewa. “kau marah padaku, shawty?”
Dasar bodoh, gumamku. “aku ingin pulang” ketika hendak aku ingin
membuka pintu mobilnya justin langsung menjalankan mobilnya dengan laju.
Membawa mobil dengan adrenalin yang tinggi. Mengebut dengan kencang melewati
batas kecepatan peraturan di daerah itu. Aku terlonjak histeris dan berteriak
sekuat-kuatnya meminta justin untuk mengehntikan mobilnya, segera!
Mobil inipun berhenti di sebuah
bukit yang sangat tinggi. Terlihat jelas aku dapat memandang semua isi kota
dari ketinggan ini. Dari dalam mobil ini, aku menganggumkan pemandangan ini.
Semua ini membuatku lupa bahwa aku ingin segera pulang meninggalkan justin.
“jadi, kau tak marah lagi
denganku?”
Aku menoleh padanya,
“terimakasih telah membawaku kemari. Aku belum pernah kemari sebelumnya” aku
meliriknya, memberikan senyuman manis d bibirku. Justin menatapku dengan
lembut.
Aku kembali memandang keluar
jendela, mencoba menerka mencari dimana letak rumahku jika dilihat dari atas
sini. tiba-tiba justin menyentuh tanganku dengan lembut, aku menatapnya. Mata
kami saling bertemu. Justin mengeluarkan sebuah secarik kertas yang sudah
snagat kummel dan lenyek. “kau ingat suratmu ini? Aku selalu menyimpannya dan
berharap ada namamu yang kamu tulis di surat ini. Tapi, semenjak kamu
menghilang tanpa mengingatkanku namamu, itu membuatku frustasi”
“frustasi?” aku mengulang kalimatnya, aku masih tidak mngerti pada
kalimat itu.
“aku menyukaimu, shawty.
semenjak kau menjadi OLLG di London saat itu”
Jantungku berpacu sangat
kencang. Bahkan semakin berdentam hebat saat justin menggenggam kedua telapak
tanganku. Aku ingin kabur dari mobil ini karena aku sungguh takut dalam sebuah
ruangan yang hanya memancarkan aura untuk dua orang yang hampa tanpa
pembicaraan.
Justin Bieber, idolaku itu
menghela nafasnya dengan pelan dan kemudian dengan ragu dan malu ia berkata,
“Steffani, kamu mau menjadi pacarku?”
ini mimpi. Aku yakin ini adalah
mimpi. Segera aku menghempaskan genggaman justin dan membuka pintu mobilnya.
Aku berlari menghambur keluar tanpa menatapnya yang bengong melihatku pergi.
Tapi tidak seperti yang aku fikirkan, justin malah mengejarku. Tapi aku terus
berlari, namun bukit ini sangat terjal untuk dituruni dan justin masih berusaha
keras mengejarku dan meneriaki namaku untuk berhenti. Hingga akhirnya aku lelah
dan berhenti di bawah pohon untuk mengatur nafasku.
Sepanjang aku berlari menuruni
bukit aku masih saja berada di ketinggian di atas kota. Justin mendekatiku.
“Steffani aku serius, aku
mencintaimu, aku ingin kau—“
“JANGAN MENDEKATIKU!” bentakku,
“kalau kau mendekat, aku akan menjatuhkan diriku ke bawah”,
“ja-jangan, shawty, dengarkan
aku dulu. Aku tahu semua permasalahanmu, aku tahu soal majalah itu”
Mendengar perkataan justin itu,
nafasku langsung berhenti, berharap oksigen sudah lenyap dan aku segera mati
secepatnya.
“majalah? Majalah apa maksudmu?”
aku mencoba menutupi diriku, seolah tidak tahu apapun tentang itu.
“majalah itu, majalah yang dapat
membawamu datang menemuiku, kan? Sebenarnya majalah itu sudah menghebohkan
beberapa artis lainnya. Tapi, berita itu hanya dihebohkan untuk kalangan artis
yang tahu. Sebelumnya, artis lain pernah dikunjungi fans nya dengan majalah
itu, tapi ternyata majalah itu mengambil tumbal. Dia selalu mencelakai
pemakainya ketika melewati majalah itu” jelas justin.
Seketika aku terhenyak, majalah
itu sudah membuat lengan kananku patah. “ …kebanyakan fans yang menmui idolanya
dengan majalah itu meninggal setelah banyak pulang dan pergi. Aku tahu ketika
kamu tiba-tiba datang di kamar hotelku saat itu. Aku tidak kaget dan aku tahu
kamu tiba-tiba berada di hadapanku saat itu. Tapi… aku malah mencintaimu,
Steffani. Aku bahagia saat kau bersamaku. Maka dari itu aku berharap kau tidak
kabur dariku dan menetap bersamaku. Malah kamu pergi tanpa izin padaku. Aku
fikir selama dua bulan itu kamu sudah tiada dan membuatku frustasi.”
Tungkai kakiku lemas. Aku tidak
bisa bergegrak menjauh lagi saat justin sudah tepat berada di hadapanku.
“sekarang aku benar-benar bertemu dengamu. Aku datang ke Canada untuk konser
Believe Tour terakhirku dan aku berhasil menemuimu. Sekarang ini, kau bertemu
denganku bukan karena majalah, Steffani, tapi kau bertemu denganku itu adalah
karena niatku” tukasnya. Aku tidak bisa berbicara banyak setelah justin
menjelaskan semuanya. Aku benar-benar fans yang sangat beruntung. Setelah aku
ketahui bahwa aku tidak tewas karena majalah itu dan aku sekarang benar-benar bertemu
justin bieber dengan secara langsung karena niatnya, juga… justin bieber menembakku?
Justin berlutut di haapanku,
menggenggam telapak tanganku dan menatap mataku dengan lembut seraya berkata,
“Steffani Mulqueen maukah kau menikah denganku?”
MENIKAH? Justin, pasti kau bergurau dan ngelantur. Permintaanmu
tadi adalah berpacaran denganku, bukan menikah dengan ku!
“menikah?” aku bingung.
“iya, Steffani, menikah. Aku
ingin menikahimu dan menjadi suamimu”
“secepat itukah?”
Justin hanya diam. Dia berdiri
di hadapanku, merogoh sakunya dan mengeluarkan sepasang cincin. “ini semua
membuatku tergila-gila padamu, Steffani. Aku snagat serius dan aku ingin kau
menjadi istri di masa depanku”
Ini adalah sebuah mimpi yang
sangat nyata. Aku sangat bahagia tapi aku ingin menangis saat yang aku tahu
JUSTIN DREW BIEBER, idolaku yang sangat aku gilai mengajukan sebuah harapan
agar aku menikah dengannya di masa depan. Tentu, tentu aku menerimanya.
Aku mengangguk pelan tapi yakin
dan tegas, malu-malu aku menjawab, “aku menerimamu, Justin Drew Bieber”
Bukannya memelukku atau apa yang
seharusnya justin lakukan denganku setelah mendengar sebuah jawaban yang
harusnya membuatnya lompat bahagia, justin malah kabur menuju mobilnya yang ada
di atas sana. justin meninggalkanku sendiri. Dan itu membuatku sangat-sangat
bingung. Aku sepertinya telah dipermalukan oleh Justin Drew Bieber. Dia hanya
membohongiku?
Aku bersandar di bawah pohon.
Aku ingin menangis. Awalnya seharusnya aku menolak ajakannya itu! Aku juga
tidak yakin saat justin mengajakku menikah!! Benarkan, dia hanya bercanda!
Tiba-tiba dari atas sana justin
berlari membawa sebuah lingkaran yang ada di tangannya. Dia datang
menghampiriku sambil ngos-ngosan mengatur pola nafasnya. Aku memasang wajah
bingung.
Tiba-tiba justin menaruh
lingkaran itu di atas kepalaku, sebuah mahkota yang mirip dipakai sebagai OLLG.
Tapi bunganya sangat istimewa dan lebih jauh berbeda dan sangat luar biasa.
Kemudian justin memasangkan cincin berwarna madu itu di jari manisku. Kemudian
sambil memejamkan matanya, justin berkata, “Tuhan aku berjanji aku akan menjaga
Steffani Mulqueen selama aku hidup dan aku akan menikahinya sebagai istri
pertamaku dan terakhir bagiku. Amen”
Aku meneteskan air mataku.
Justin sangat serius. Serius. Kami layaknya seperti sedang mengadakan ucap
janji suci di dalam pernikahan. Justin kemudian memintaku untuk memasangkan
cincin untuknya. Aku memasang cincin berwarna madu yang sama denganku ini di
jari manisnya.
Kemudian justin membelai
kepalaku dan memperbaiki posisi mahkota itu. “steffani terlihat malu sekali”
bisiknya. Aku menggigit bibir bawahku karena justin sepetinya benar-benar tahu
bahwa aku sangat malu karena wajahku memerah.
“jika tadinya Steffani menolak,
aku yang akan melompat ke bawah dan tewas terkena batu-batu tajam di bawah
sana” kata justin. Aku mengeri. Langsung aku menepis pembicaraannya!
“tentu saja aku tidak akan
menolakmu, tapi karena tadi kamu tiba-tiba pergi meninggalkanku untuk mengambil
mahkota ini aku ingin menolakmu”
“aku ingin membuat kejutan
untukmu, Steffani” kami berdua hanya saling bertatapan.
“here’s be one less lonely girl…” aku bernyanyi, menadakan nada lagu
one less lonely girl karena aku jadi teringat saat aku menjadi OLLG saat itu.
Kami berdua slaing tersipu, justin langsung memelukku, sangat erat. Erat
sekali. Sampai mahkota itu hampir terjatuh dan dengan sigap aku mengembalikan
di atas kepalaku. Justin berbisik di telingaku, “kau harus alergi terhadap
majalah, Steffani”, aku geli mendengar bisikan ucapannya itu dan aku tertawa.
Aku melepas pelukannya lalu meminta satu harapan padanya, “justin, aku ingin
kau memanggilku shawty ketimbang
namaku, karena sampai kapanpun aku akan menjadi Belieber yang sesungguhnya”
Justin tersenyum, kembali
memelukku sangat erat dan kali ini lebih erat dari sebelumnya, “baiklah,
shawty”
“I love you, Justin”
“I love you, Shawty”
Sesaat justin melepas pelukannya
kemudian mencium bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya. kami menikmati
kebersamaan kami itu di bawah pohon yang sangat rindang memandang pemandangan
kota. Justin, I’ll be keep to true
belieber always and forever….